Varises merupakan salah satu penyakit vena kronis yang sering terjadi pada wanita usia produktif. Kondisi ini ditandai dengan pelebaran vena superfisial akibat gangguan fungsi katup vena sehingga menyebabkan aliran darah balik (refluks). Aktivitas fisik diketahui berperan dalam menjaga sirkulasi vena, namun aktivitas yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya varises. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Populasi penelitian adalah wanita usia produktif 20–49 tahun. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 120 orang. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan kejadian varises dinilai melalui observasi fisik berdasarkan klasifikasi Clinical-Etiology-Anatomy-Pathophysiology (CEAP). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α=0,05).Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sedang (48,3%), diikuti aktivitas rendah (31,7%) dan aktivitas tinggi (20,0%). Kejadian varises ditemukan pada 36,7% responden. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian varises (p<0,05). Responden dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami varises dibandingkan responden dengan aktivitas fisik sedang maupun tinggi.Aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian varises pada wanita usia produktif. Aktivitas fisik yang cukup dan teratur berperan dalam meningkatkan fungsi pompa otot betis sehingga membantu mengurangi risiko terjadinya varises.