M. Amien Rais
Universitas Trunojoyo Madura

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Umur Panen terhadap Kandungan Protein dan Serat Kasar Polong Muda Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Yuni Nurfiana; Eko Setiawan; M. Amien Rais
Tabela Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 (2026): Edisi Juli
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/tabela.v4i2.1846

Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman polong-polongan tropis yang memiliki kandungan protein dan serat setara kedelai, namun informasi mengenai umur panen optimal untuk konsumsi polong muda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh umur panen terhadap panjang buah, bobot buah, kandungan protein, dan kandungan serat kasar polong muda kecipir, serta menentukan umur panen optimal untuk konsumsi. Penelitian dilaksanakan di Desa Laden, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, dan Laboratorium Dasar Universitas Trunojoyo Madura, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh taraf umur panen (3, 6, 9, 12, 15, 18, dan 21 hari setelah bunga mekar) dan empat kelompok. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) taraf 5%, dilanjutkan uji Beda Nyata Jarak Duncan (BNJD) apabila terdapat pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur panen berpengaruh nyata terhadap panjang buah, bobot buah, kandungan protein, dan kandungan serat kasar. Kandungan protein dan serat kasar meningkat seiring bertambahnya umur panen, dengan nilai tertinggi pada umur panen 21 hari setelah bunga mekar, yaitu protein 7,1 g/100 g dan serat kasar 2,0 g/100 g. Berdasarkan analisis regresi korelasi dan pertimbangan keseimbangan antara ukuran polong, kandungan protein, dan kandungan serat kasar, umur panen 18 hari setelah bunga mekar merupakan umur panen yang paling optimal untuk konsumsi polong muda kecipir sebagai sayuran, karena polong sudah mencapai ukuran yang baik dengan kandungan protein yang memadai sebelum terjadinya peningkatan serat kasar yang tajam sehingga akan menyebabkan tekstur polong yang keras.