Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT TERHADAP KAPASITAS ULTIMIT, ABSORBSI & TINGKAT KEBISINGAN BETON (STUDI KASUS : SERAT ALAMI DAUN NANAS DAN SERAT PLASTIS ROVING) Devi Oktarina; Yan Juansyah; Anang K A; Aldharin Rizky; Fadli Rizal
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i1.25066

Abstract

ABSTRAK Beton merupakan bahan pembangunan yang mempunyai sifat kuat terhadap beban tekan tetapi lemah terhadap beban tarik. Cara mengatasi kelemahan kuat tarik beton dengan menambahkan serat pada proses pembuatan adukan beton. Serat yang digunakan bisa berupa serat alami dari tumbuhan maupun serat buatan atau serat sintetis. Serat alami yang digunakan pada penelitian ini berasal dari serat limbah daun nanas sisa tanam dari PT Great Giant Pieeapple (PT GGP) yang berada di Lampung dan serat sintetis dari serat Roving digunakan dalam berbagai aplikasi teknik dan industri untuk memperkuat bahan komposit. Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimen yang dilaksanakan di Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas Malahayati dengan variasi penambahan serat daun nanas 0%, 1%, 3%, 5%, dan 7%, kondisi serat SSD dan panjang serat 1,5 cm terhadap berat semen, beton mutu f’c 25 MPa, pada pengujian 28 hari. Pengujian beton yang dilakukan dengan penambahan serat daun nanas dan serat Roving adalah kuat tekan, kuat tarik, ketahanan absorbsi, dan tingkat kebisingan beton. Hasil pengujian kuat tekan beton menerangkan bahwa tidak ada peningkatan kuat tekan beton pada penambahan serat daun nanas dan serat roving. Terjadi peningkatan kuat tarik belah beton pada variasi penambahan serat daun nanas 1% sebesar 1,86 MPa dibandingkan dengan variasi 0% sebesar 1,81 MPa. Hasil dari pengujian penambahan serat daun nanas dapat disimpulkan serat daun nanas tidak dapat meningkatkan kuat tekan beton, serat daun nanas dapat memberikan pengaruh peningkatan kuat tarik belah beton, beton serat daun nanas menawarkan potensi aplikatif dalam bidang kontruksi. Kata kunci: serat, daun nanas, roving, kuat tekan, kuat tarik belah, absopsi, tingkat kebisingan ABSTRACT The Effect Of Fiber Addition On The Ultimate Capacity, Absorption Noise Level Of Concrete (Case Study: Natural Pineapple Leaf Fiber And Plastic Roving Fiber). One of the weaknesss of concrete was its low tensile strength. One way to improve the split tensile strength of concrete was by adding fibers to the concrete mix. In this study, pineapple leaf fibers were used, which were extracted from pineapple leaf waste from PT Great Giant Pineapple (PT GGP) in Lampung. Therefore, a study was conducted to evaluate the effect of adding pineapple leaf fibers on the compressive strength, tensile strength, absorption resistance, and noise level of concrete. The research was a true experiment conducted at the Civil Engineering Concrete Laboratory at Universitas Malahayati, with variations in the addition of pineapple leaf fibers at 0%, 1%, 3%, 5%, and 7%, with SSD fiber conditions and fiber lengths of 1.5 cm, on cement weight, and concrete with a compressive strength grade of f'c 25 MPa, tested at 28 days. The results of the compressive strength test showed that there was no increase in the compressive strength of concrete with the addition of pineapple leaf fibers.  There was an increase in the split tensile strength of concrete with the addition of 1% pineapple leaf fiber, reaching 1,86 MPa compared to 1,181 MPa at 0%. Based on the test results, the addition of pineapple leaf fibers would not increase the compressive strength, but improved the split tensile strength concrete. Pineapple leaf fiber concrete offered potential applications in construction.  Keywords: fiber, pineapple leaf, roving, compressive strength, tensile strength, absorption, noise level
PENGARUH VARIASI UKURAN AGREGAT KASAR BATU PECAH TERHADAP KARAKTERISTIK BETON POROUS Ragil Abimanyu; Devi Oktarina; Yan Juansyah; Surya Sembayang
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v10i2.27449

Abstract

ABSTRAK Beton berpori (pervious concrete) merupakan jenis beton yang memiliki porositas tinggi sehingga memungkinkan air melewati struktur internalnya. Beton ini banyak digunakan pada perkerasan ramah lingkungan seperti jalur pejalan kaki, area parkir, dan sistem drainase berkelanjutan karena mampu mengurangi limpasan permukaan serta meningkatkan infiltrasi tanah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi ukuran agregat kasar (batu pecah) terhadap kuat tekan, penyerapan air (absorpsi), dan laju aliran air beton berpori menggunakan alat falling head permeameter, serta menentukan ukuran agregat yang menghasilkan karakteristik terbaik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental di laboratorium dengan tiga variasi ukuran agregat kasar, yaitu 5–10 mm, 10–20 mm, dan campuran 5–20 mm. Setiap variasi terdiri atas 15 benda uji, sehingga total benda uji yang digunakan sebanyak 45 sampel. Benda uji yang digunakan berupa silinder berukuran 15 x 30 cm untuk pengujian kuat tekan, silinder berukuran 9,5 x 15 cm untuk pengujian laju aliran air, serta kubus berukuran 5 x 5 cm untuk pengujian absorpsi. Seluruh pengujian dilakukan pada umur beton 28 hari dengan komposisi campuran yang terdiri dari semen, air, dan agregat kasar tanpa menggunakan agregat halus. Penentuan variasi optimum dilakukan menggunakan indeks kinerja berbobot yang mempertimbangkan kuat tekan, absorpsi, dan laju aliran air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran agregat memberikan pengaruh terhadap karakteristik beton berpori. Kuat tekan tertinggi diperoleh pada agregat 5–10 mm sebesar 10,012 MPa, sedangkan nilai absorpsi dan laju aliran air tertinggi diperoleh pada agregat 10–20 mm, masing-masing sebesar 27,254% dan 8,96 ml/detik. Berdasarkan evaluasi kinerja evaluasi berbobot, variasi agregat 5-10 mm ditetapkan sebagai variasi optimum karena memberikan keseimbangan kinerja terbaik berdasarkan parameter yang ditinjau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan ukuran agregat kasar merupakan faktor penting dalam menghasilkan beton berpori yang sesuai untuk kebutuhan perkerasan dan drainase berkelanjutan. Kata kunci: beton berpori, batu pecah, kuat tekan, absorpsi, laju aliran air. ABSTRACT The Effect of Varying Crushed Coarse Aggregate Sizes on the Characteristics of Pervious Concrete. Pervious concrete is a type of concrete characterized by high porosity, allowing water to pass through its internal structure. It is widely used in eco friendly pavement applications such as pedestrian walkways, parking areas, and sustainable drainage systems due to its ability to reduce surface runoff and enhance soil infiltration. This study aims to analyze the effect of varying coarse aggregate (crushed stone) sizes on the compressive strength, water absorption, and water flow rate of pervious concrete using a falling-head permeameter and to determine the aggregate size that yields the optimal characteristics. An experimental laboratory method was employed, utilizing three coarse aggregate size variations: 5–10 mm, 10–20 mm, and a 5–20 mm blend. Each variation comprised 15 specimens, resulting in a total of 45 samples. The specimens consisted of 15 x 30 cm cylinders for compressive strength testing, 9.5 x 15 cm cylinders for water flow rate testing, and 5 x 5 cm cubes for absorption testing. All tests were conducted at a concrete age of 28 days, using a mix composition of cement, water, and coarse aggregate, without the inclusion of fine aggregate. The optimal variation was determined using a weighted performance index that considered compressive strength, absorption, and water flow rate. The results indicate that aggregate size influences the characteristics of pervious concrete. The highest compressive strength (10.012 MPa) was achieved with the 5–10 mm aggregate, while the highest absorption (27.254%) and water flow rate (8.96 ml/s) were observed with the 10–20 mm aggregate. Based on the weighted performance evaluation, the 5–10 mm aggregate variation was identified as the optimum, as it provided the best balance of performance across the parameters examined. The study concludes that the selection of coarse aggregate size is a critical factor in producing pervious concrete suitable for pavement and sustainable drainage requirements. Keywords: pervious concrete, coarse aggregate, compressive strength, water absorption, water flow rate