Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Equitable Arabic Language Learning: An Innovative Response to Economic Challenges through the Hiwaruna Textbook Mohammad Zainal Hamdy
International Conference on Islamic Economic (ICIE) Vol. 4 No. 2 (2025): October
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58223/h3a3d989

Abstract

The development of the Hiwaruna textbook was initiated as a response to the dual challenge of linguistic complexity and economic limitation faced by ibtida’ students at Darul Lugha wal Qur’an Palengaan Daja, Pamekasan. The existing textbook, Muhawarah Juz 1, was found to be linguistically demanding and economically inaccessible, creating disparities in students’ learning engagement. This study aims to design and develop a more affordable yet pedagogically sound alternative to support equitable Arabic kalam learning. Employing a Research and Development (R&D) approach based on the 4D model (Define, Design, Develop, and Disseminate), data were collected through classroom observation, teacher interviews, expert validation, and student feedback. The Hiwaruna textbook was designed to suit students’ proficiency levels, incorporating contextual themes, simplified vocabulary, visual aids, and pronunciation guides, while being printed locally at a cost 80% lower than commercial materials. The implementation demonstrated significant improvements in student motivation, comprehension, and speaking ability. Furthermore, teachers reported that Hiwaruna facilitated more interactive and inclusive classroom communication. The findings suggest that pedagogical innovation rooted in local economic awareness can enhance accessibility without compromising educational quality, offering a sustainable model for Arabic language instruction in resource-limited contexts
Pendampingan Dalam Penguatan Moderasi Beragama Dan Kerukunan Antarumat Di Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Moh. Mofid; Hufron; Gatut Setiadi; Zizi Nurhikmah; Mohammad Zainal Hamdy
Khidmatuna: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Khidmatuna: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/khidmatuna.v6i2.4435

Abstract

Permasalahan masyarakat di Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan muncul dari keragaman agama Islam, Hindu, dan Kristen yang selama ini harmonis, namun menghadapi tantangan perubahan sosial, arus informasi digital, serta masuknya paham keagamaan transnasional yang berpotensi memicu kesalahpahaman jika tidak dikelola melalui komunikasi inklusif dan literasi keagamaan yang memadai. Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah memperkuat pemahaman moderasi beragama melalui nilai tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa perbedaan keyakinan merupakan kekayaan sosial yang perlu dirawat dengan dialog, empati, serta kolaborasi lintas komunitas demi ketahanan sosial desa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai subjek kegiatan. Tahapan meliputi identifikasi masalah bersama tokoh agama dan warga, perencanaan program edukasi, pelaksanaan sosialisasi dan dialog lintas agama, serta refleksi dan evaluasi partisipatif. Kegiatan diwujudkan melalui seminar interaktif, diskusi kelompok terarah, kerja bakti lintas iman, penanaman pohon, dan kegiatan budaya desa. Pendekatan komunikasi partisipatif dipilih agar warga terlibat aktif, berbagi pengalaman, membangun kepercayaan, serta merumuskan komitmen bersama menjaga kerukunan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran hidup damai, keterbukaan terhadap perbedaan, serta partisipasi warga dalam aktivitas sosial lintas agama. Muncul pula inisiatif pembentukan forum komunikasi antarumat beragama tingkat desa sebagai wadah berkelanjutan untuk memelihara dialog, mencegah konflik, dan menguatkan solidaritas masyarakat, sekaligus mendorong tokoh lokal menjadi agen moderasi yang konsisten menanamkan nilai harmoni sosial.