Nibros, Aqeel Muhammad
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Daktilitas dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan Umur dan Rasio Tulangan dengan Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 20% Nibros, Aqeel Muhammad; Lilya Susanti; Ming Narto Wijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi umur beton dan rasio tulangan terhadap daktilitas serta pola retak balok beton bertulang dengan substitusi parsial semen menggunakan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebesar 20%. Pesatnya pembangunan infrastruktur mendorong peningkatan penggunaan semen yang berdampak pada bertambahnya emisi CO2, sehingga GGBFS dimanfaatkan sebagai alternatif substitusi yang lebih ramah lingkungan. Penelitian menggunakan benda uji balok beton bertulang berukuran 10 cm x 20 cm x 100 cm dengan faktor air semen (FAS) 0,35. Variabel penelitian meliputi variasi umur beton (28 hari dan 56 hari) serta rasio tulangan (0,00872 dan 0,0131), dengan total 8 balok bersubstitusi GGBFS dan 8 balok kontrol yang diuji menggunakan metode pembebanan statis dua titik terpusat (two-point loading test) hingga keruntuhan, dilengkapi analisis statistik Two-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur beton berpengaruh terhadap nilai daktilitas balok beton bertulang, di mana bertambahnya umur beton meningkatkan kemampuan balok dalam mengalami deformasi sebelum keruntuhan (F = 9,038; Sig. = 0,040). Variasi rasio tulangan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap daktilitas (Sig. = 0,081), namun berpengaruh signifikan terhadap jumlah visual akhir retakan (Sig. = 0,040) dan beban retak pertama/Pcr (Sig. = 0,007). Peningkatan rasio tulangan menghasilkan retakan yang lebih banyak, lebih rapat, dan lebih merata, serta meningkatkan kemampuan balok dalam menahan terbentuknya retak awal. Secara umum, seluruh benda uji menunjukkan pola kegagalan dominan berupa lentur-geser, dan penggunaan GGBFS 20% tidak mengubah moda keruntuhan utama tersebut.