Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonstruksi Citra Pesantren di Media Elektronik: “Kajian Apologetik Al-Ghazali dan Al-Attas atas Distorsi Adab dan Prinsip Tabayyun (Qs. Al-Hujurat:6)” Aorta Abdillah Alaa; Nasrulloh Nasrulloh
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6298

Abstract

Maraknya pemberitaan dan konten media elektronik yang menampilkan pesantren secara bias termasuk program Xpose Uncensored di Trans7 telah memperkuat stereotip negatif dan menimbulkan distorsi adab dalam ruang publik digital. Representasi yang cenderung sensasional ini memutus konteks pesantren sebagai institusi pendidikan Islam bersejarah yang menggabungkan transmisi ilmu, pembentukan akhlak, dan pembinaan spiritual. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi citra pesantren melalui pendekatan apologetik berbasis pemikiran al-Ghazali dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, dua tokoh yang menekankan pentingnya adab dan verifikasi informasi (tabayyun) sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Ḥujurat:6. Menggunakan metode kualitatif deskriptif–analitis, penelitian ini menelaah konten media, literatur klasik, serta respons masyarakat sebagai data komparatif. Berbeda dari penelitian terdahulu yang lebih berfokus pada kasus-kasus individual atau pendekatan sosiologis, studi ini menawarkan integrasi antara konsep adab, etika informasi, dan kritik media dalam bingkai epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distorsi media terhadap pesantren berakar pada lemahnya tabayyun publik dan hilangnya kerangka adab dalam produksi maupun konsumsi informasi. Melalui pendekatan apologetik, citra pesantren dapat direstorasi ke posisi proporsional sebagai pusat pembinaan moral, intelektual, dan sosial yang memiliki kontribusi signifikan bagi peradaban Islam.
Praktik Syura Tradisi Batagak Penghulu Adat Minangkabau Perspektif Living Qur’an Muhammad Ilham; Nasrulloh Nasrulloh
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i2.6313

Abstract

Penelitian ini menganalisis integrasi nilai syura Qur’ani dalam mekanisme musyawarah adat Minangkabau pada tradisi batagak penghulu dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka yang diperkaya oleh wawancara terhadap narasumber adat. Latar belakang penelitian berangkat dari pentingnya memahami bagaimana nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam praktik sosial masyarakat lokal, khususnya melalui prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Tujuannya adalah menelaah bagaimana nilai syura’ diresepsi, diinterpretasi, dan diimplementasikan dalam proses pengangkatan penghulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan batagak penghulu mulai dari musyawarah kaum hingga konsensus nagari selaras dengan prinsip Qur’ani mengenai musyawarah, moralitas, dan legitimasi kepemimpinan sebagaimana tercermin dalam QS. 42:38, 3:159, 49:13, dan 4:59. Proses musyawarah tersebut memperlihatkan internalisasi nilai syura’ yang dijalankan secara turun-temurun dan terus direproduksi dalam konteks budaya yang dinamis. Kesimpulannya, tradisi batagak penghulu tidak hanya kompatibel dengan nilai Al-Qur’an, tetapi juga merepresentasikan bentuk living qur’an yang memadukan adat, agama, dan praktik sosial secara harmonis dalam menguatkan legitimasi kepemimpinan dan kohesi sosial di tengah dinamika masyarakat Minangkabau kontemporer serta menjaga keberlanjutan nilai-nilai kolektif.