Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan berkontribusi terhadap keberhasilan penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Mataram. Sebagai standar pembayaran digital yang ditetapkan secara nasional, QRIS diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam bertransaksi, memperluas jangkauan layanan keuangan, sekaligus mengakselerasi transformasi digital di sektor UMKM. Meski demikian, keberhasilan implementasinya tidak terlepas dari seberapa besar penerimaan pengguna terhadap teknologi ini. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif melalui metode survei dengan melibatkan 100 pelaku UMKM pengguna QRIS di Kota Mataram sebagai sampel, yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan kerangka Technology Acceptance Model (TAM), mencakup tiga variabel utama, yaitu persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan keberhasilan adopsi QRIS. Analisis data dilakukan dengan teknik regresi linier berganda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa baik persepsi kegunaan maupun persepsi kemudahan penggunaan memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keberhasilan adopsi QRIS. Lebih lanjut, secara bersama-sama kedua variabel tersebut juga terbukti berpengaruh nyata terhadap tingkat pemanfaatan QRIS oleh pelaku UMKM di Kota Mataram. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik pemahaman pelaku UMKM terhadap manfaat dan kemudahan QRIS, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk mengadopsi sistem pembayaran digital tersebut dalam kegiatan usahanya. Atas dasar itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan lembaga keuangan terkait dalam merancang strategi sosialisasi serta penguatan literasi digital guna mendorong pemanfaatan QRIS secara optimal dan berkelanjutan.