Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS KEGIATAN MENONTON FILM ANIMASI UNTUK MEMBIASAKAN BUDAYA ANTRE (Penelitian di kelas A TK Islam Al Farabi Cikeudal, Pandeglang) Devi Farhah Faizah; Hunainah Hunainah; Muhiyatul Huliyah
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara November 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i6.11944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan menonton film animasi dalam membiasakan budaya antri pada anak usia dini di kelas A TK Islam Al Farabi, Cikeudal Pandeglang. Budaya antri merupakan bagian dari Pendidikan karakter sosial yang penting untuk ditanamkan sejak dini, guna membentuk sikap sabar, tertib, dan menghargai giliran dam kehidupan sehari-hari pada anak. Penelitian ini menggunakan metode pre eksperimen dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Tahapan pelaksanan kegiatan dilakukanan secara sistematis, dimulai dari memilih dan Menyusun jadwal pemutaran film animsi yang disesuaikan dengan jam pembelajaran di TK, yaitu dilaksanakan satu kali dalam seminggu. Selanjutnya, peneliti menyiapkan empat judul film animasi bertema budaya antri yang akan disaksikan secara bergantian oleh anak-anak. Sebelum kegiatan dimulai guru memberitahukan kepada anak-anak bahwa mereka akan menonton film animasi tentang budaya antri dengan tema yang sama, namun dengan judul yang berbeda. Selama proses menonton berlangsung, film animasi diputar dalam durasi tertentu, lalu dijeda (diapause) untuk memberikan kesempatan kepada guru bertanya dan menjelaskan isi film, serta menekankan makna pentingnya budaya antri. Setelah menonton, anak-anak diarahkan untuk mempraktikan budaya antri tersebut nyata, seperti saat mencuci tangan, bermain diarea outdoor. Subjek penelitian ini terdiri dari 6 orang anak yang dipilih berdasarkan pengamatan awal terhadap perilaku antri mereka. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara,dengan guru dan kepala sekolah, serta kuesioner yang diberikann sebelum dan sesudah perlakuan. Dengan demikian,kegiatan menonton film animasi terbukti memberikan pengaruh positif dalam membiasakan budaya antri pada anak usia dini, serta dapat dijadikan sebagai salah satu metode pembelajrab karakter sosial yang menyenagkan dan efektif.
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI 5 TAHUN (Studi di TK AL-FINA Bekasi Provinsi Jawa Barat) Azizah Novianti Rahmah; Hunainah Hunainah; Birru Muqdamien
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara November 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i6.12012

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui peran orang tua dalam pendidikan seks terhadap anak usia dini di Bekasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif lapangan yang bersifat deskriptif dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penulis mewawancarai sumber data primer yaitu orang tua dan sumber data sekunder yaitu guru. Berdasarkan hasil penelitian ini adalah peran orang tua di TK Al-Fina, orang tua kurang berperan aktif, disebabkan oleh terbatasnya tingkat pendidikan/pengetahuan tentang seks yang benar pada anak. Peran orangtua di TK Al-Fina terhadap pendidikan seks pada anak usia dini dalam mengernalkan, menyampaikan, memberikan dan mengajarkan pendidikan seks pada anaknya. Masih banyak yang belum berperan dengan baik sebagaimana mestinya, dikarenakan faktor penghambat yaitu faktor ekonomi dan sosial budaya, factor ekonomi keluarga yang masih rendah, sehingga orangtua sibuk dengan aktivitas pekerjaan atau mata pencaharian dalam keseharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal tersebut membuat lalai tentang pentingnya peran orangtua dalam mengenalkan pendidikan seks kepada anak sejak usia dini. Praktik pendidikan seks yang dilakukan orangtua mencakup berbagai aspek komprehensif, mulai dari pengenalan alat kelamin dengan bahasa yang sesuai usia, pengaturan pemisahan tempat tidur untuk mengajarkan konsep privasi dan batasan personal space, hingga pemberian edukasi tentang batas aurat dan rasa malu yang sehat. Selain itu, orangtua juga memberikan penjelasan mengenai batasan dalam bersentuhan dengan mengajarkan jenis sentuhan yang pantas dan tidak pantas, melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan media elektronik untuk melindungi anak dari konten yang tidak sesuai usia, serta memberikan pendidikan tentang pentingnya privasi pribadi dan menjaga kerahasiaan informasi personal. Pendekatan agama juga diintegrasikan dalam pendidikan seks dengan mengajarkan nilai-nilai kesucian dan moral berdasarkan ajaran spiritual, disertai dengan edukasi tentang rutinitas mandi dan kebersihan pribadi yang mendukung kemandirian anak.