M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA
Magister Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tatalaksana Akalasia Esofagus dengan Pneumatic Balloon Dilation: Laporan Kasus M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA; Anton Komala Anton Komala
Wal'afiat Hospital Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/nbaknr56

Abstract

Akalasia esofagus adalah gangguan motilitas esofagus ditandai dengan degenerasi sel ganglion progresif pada pleksus mienterik esofagus, yang mengakibatkan gangguan relaksasi sfingter esofagus bagian bawah (Lower Esophageal Sphincter) saat menelan dan terjadi gagalnya peristaltik esofagus pada area segmen otot polos distal esofagus. Insiden dan prevalensi akalasia di seluruh dunia mengalami peningkatan yaitu dari 0,40 kasus per 100.000 orang-tahun pada periode 1925-1999 menjadi 1,64 kasus pada periode 2018-2021. Dilaporkan seorang pasien perempuan usia 56 tahun dengan keluhan sering muntah tiap makan sejak 4 tahun terakhir, hanya makan konsistensi lunak hampir setiap hari selama 4 tahun. Pada pemeriksaan Oesophageal Maag Duodenum (OMD) ditemukan penyempitan lumen esofagus yang membentuk gambaran "rat tail sign". Dilakukan pemeriksaan endoskopi, didapatkan dua penyempitan setinggi 22cm dan 30cm dari kedalaman scope, sekaligus tatalaksana berupa Pneumatic Balloon Dilation. Hanya penyempitan pertama yang dapat dilebarkan, sementara penyempitan kedua belum dapat dilebarkan akibat diameter lumen esofagus <2cm sehingga alat pneumatic balloon dilation tidak dapat melewati penyempitan tersebut. Pascatindakan masih ditemukan keluhan namun akan dilakukan tindakan yang sama dengan jarak 1-2 bulan.
Tatalaksana Akalasia Esofagus dengan Pneumatic Balloon Dilation: Laporan Kasus M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA M. Abrar Naufal Hidayatullah ZA; Anton Komala Anton Komala
Wal'afiat Hospital Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/nbaknr56

Abstract

Akalasia esofagus adalah gangguan motilitas esofagus ditandai dengan degenerasi sel ganglion progresif pada pleksus mienterik esofagus, yang mengakibatkan gangguan relaksasi sfingter esofagus bagian bawah (Lower Esophageal Sphincter) saat menelan dan terjadi gagalnya peristaltik esofagus pada area segmen otot polos distal esofagus. Insiden dan prevalensi akalasia di seluruh dunia mengalami peningkatan yaitu dari 0,40 kasus per 100.000 orang-tahun pada periode 1925-1999 menjadi 1,64 kasus pada periode 2018-2021. Dilaporkan seorang pasien perempuan usia 56 tahun dengan keluhan sering muntah tiap makan sejak 4 tahun terakhir, hanya makan konsistensi lunak hampir setiap hari selama 4 tahun. Pada pemeriksaan Oesophageal Maag Duodenum (OMD) ditemukan penyempitan lumen esofagus yang membentuk gambaran "rat tail sign". Dilakukan pemeriksaan endoskopi, didapatkan dua penyempitan setinggi 22cm dan 30cm dari kedalaman scope, sekaligus tatalaksana berupa Pneumatic Balloon Dilation. Hanya penyempitan pertama yang dapat dilebarkan, sementara penyempitan kedua belum dapat dilebarkan akibat diameter lumen esofagus <2cm sehingga alat pneumatic balloon dilation tidak dapat melewati penyempitan tersebut. Pascatindakan masih ditemukan keluhan namun akan dilakukan tindakan yang sama dengan jarak 1-2 bulan.