Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN PERDARAHAN GASTROINTESTINAL DENGAN LUARAN PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT Rico Defryantho,* Lisda Amalia,* Ahmad Rizal,** Suryani Gunadharma,* Siti Aminah,* Nushrotul Lailiyy
NEURONA Vol. 36 No. 2 Maret 2019
Publisher : Neurona Majalah Kedokteran Neuro Sains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTRODUCTION GASTROINTESTINAL BLEEDING ASSOCIATED BY THE DELAY IN THE ADMINISTRATION OF ANTIPLATELET AND ANTICOAGULANT THUS AFFECTED THE CLINICAL OUTCOME AND PATIENT TREATMENT
HUBUNGAN PERDARAHAN GASTROINTESTINAL DENGAN LUARAN PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT Rico Defryantho; Lisda Amalia; Ahmad Rizal; Suryani Gunadharma; Siti Aminah; Nushrotul Lailiyya
NEURONA Vol 36 No 2 (2019)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v36i2.58

Abstract

     ASSOCIATION BETWEEN GASTROINTESTINAL BLEEDING WITH CLINICAL OUTCOME ACUTE ISCHEMIC STROKE PATIENTABSTRACTIntroduction: Gastrointestinal bleeding associated by the delay in the administration of antiplatelet and anticoagulant, thus affected the clinical outcome and patient treatment.Aims: To find the association between gastrointestinal bleeding and clinical outcome in acute ischemic stroke patient.Methods: This study was a prospective observational, conducted at Hasan Sadikin Hospital Bandung in November 2017 to February 2018. Acute ischemic stroke patients that fulfill the inclusion and exclusion criteria were observed while being treated in the ward and the survival rate and length of stay were studied. This study used univariate, bivariate, multivariate, and stratification analysis.Results: In the study period, 100 acute ischemic stroke patients were found and 24 patients had gastrointestinal bleeding. A history of previous peptic ulcer/gastrointestinal bleeding was found in patient with gastrointestinal bleeding (20.8%). Median NIHSS score was higher (16 vs 7) and GCS score was lower (12 vs 15) in patients with bleeding. Multivariate analysis showed that gastrointestinal bleeding were significantly associated with survival and length of stay. The analysis of stratification showed subjects with infections who later experienced gastrointestinal bleeding had a lower risk of death and length of stay than subjects without infection who experienced gastrointestinal bleeding (1.7  vs  22.5 times and 1.5 vs 2 times).Discussion: Ischemic stroke with gastrointestinal bleeding had higher mortality and length of stay than without gastrointestinal bleeding in acute ischemic stroke patient.Keyword: Acute ischemic stroke, gastrointestinal bleeding, length of stay, mortalityABSTRAKPendahuluan: Perdarahan gastrointestinal berhubungan dengan penundaan terapi antiplatelet atau antikoagulan, sehingga berpengaruh terhadap luaran dan tata laksana pasien.Tujuan: Mengetahui hubungan perdarahan gastrointestinal dengan luaran pasien stroke iskemik akut.Metode: Penelitian prospektif observasional terhadap pasien stroke iskemik akut di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada bulan November 2017 hingga Februari 2018. Pasien stroke iskemik akut yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diobservasi selama perawatan untuk mengetahui survival dan lama perawatan di rumah sakit. Analisis statistik yang digunakan adalah univariat, bivariat, multivariat, dan stratifikasi.Hasil: Selama periode penelitian didapatkan 100 subjek stroke iskemik akut dengan 24 subjek mengalami perdarahan gastrointestinal. Riwayat ulkus peptikum/perdarahan gastrointestinal sebelumnya sebanyak 20,8% pada perdarahan gastrointestinal. Median skor NIHSS lebih tinggi (16 vs 7) dan skor GCS lebih rendah (12 vs 15) pada perdarahan. Analisis multivariat didapatkan perdarahan gastrointestinal memiliki hubungan signifikan dengan survival dan lama perawatan. Berdasarkan analisis stratifikasi subjek dengan infeksi yang kemudian mengalami perdarahan gastrointestinal memiliki risiko mortalitas dan lama perawatan lebih rendah dibandingkan subjek tanpa infeksi kemudian mengalami perdarahan gastrointestinal (1,7 vs 22,5 kali dan 1,5 vs 2 kali).Diskusi: Stroke iskemik akut yang mengalami perdarahan gastrointestinal memiliki risiko mortalitas dan lama perawatan lebih tinggi dibandingkan tanpa perdarahan gastrointestinal.Kata kunci: Lama perawatan, mortalitas, perdarahan gastrointestinal, stroke iskemik akut
Kenali Stroke Sejak Dini: Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Tanda, Gejala, Dan Bahaya Stroke Rico Defryantho; Zamli Zamli
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 4 No. 5 (2026): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v4i5.4739

Abstract

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan yang memerlukan penanganan cepat, namun rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, dan bahaya stroke masih menjadi tantangan dalam upaya pencegahan komplikasi. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta menganalisis peningkatan pengetahuan peserta melalui edukasi kesehatan mengenai deteksi dini stroke. Kegiatan dilaksanakan di RSUD dr. Palemmai Tandi Palopo dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien, dan pengunjung rumah sakit. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan menggunakan media presentasi dan poster, diskusi interaktif, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi, ditandai dengan meningkatnya rerata skor pengetahuan dari 4,80 menjadi 4,96 dan bertambahnya proporsi peserta yang memperoleh skor maksimal dari 84% menjadi 96%. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas dengan pendekatan “SeGeRa Ke RS” efektif meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tanda, gejala, bahaya stroke, serta pentingnya memperoleh penanganan medis secara cepat sehingga dapat mendukung upaya promotif dan preventif dalam pengendalian stroke.
Sindrom Dyke–Davidoff–Masson pada Pasien Perempuan Usia 34 Tahun: Laporan Kasus Langka Rico Defryantho; Fristya Langkole; Nur Fadillah Ahmadi
Indonesian Journal of Health Science Vol 10 No 02 (2026): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ijhs.v10i02.13310

Abstract

Dyke–Davidoff–Masson Syndrome (DDMS) is a rare neurological disorder with fewer than 100 cases reported worldwide. It is characterized by cerebral hemiatrophy, calvarial thickening, and hyperpneumatization of paranasal sinuses, often associated with hemiparesis, seizures, and developmental delay. Adult cases with symptoms persisting for more than three decades are exceptionally uncommon and offer valuable insight into long-term disease progression. Case Presentation: A 34-year-old woman was reported with a history of epileptic seizures since the age of 9 months, occurring 3–4 times per month and persisting into adulthood. The seizures were characterized by impaired consciousness accompanied by right-sided tonic–clonic motor manifestations and were preceded by a visual aura. The patient also exhibited right hemiparesis and delayed motor development. Neurological examination revealed right-sided central facial (cranial nerve VII) and hypoglossal (cranial nerve XII) paresis, right-sided limb spasticity, and visuospatial dysfunction. Non-contrast head computed tomography (CT) demonstrated left cerebral hemiatrophy, left lateral ventricular dilatation, left calvarial thickening, and hyperpneumatization of the left frontal sinus. This case was most appropriately classified as focal epilepsy of structural etiology secondary to DDMS, with a seizure type consistent with focal impaired consciousness seizure with observable manifestations.