Perkembangan teknologi digital telah melahirkan bentuk kejahatan baru yang berdampak serius terhadap hak dan martabat manusia, salah satunya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Fenomena ini menunjukkan peningkatan signifikan dan menimbulkan dampak multidimensional, khususnya terhadap perempuan dan anak sebagai kelompok rentan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola KBGO yang terjadi di Purwokerto serta mengidentifikasi karakteristik korban dan pelaku dalam kasus-kasus tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan spesifikasi deskriptif analitis, yang mengombinasikan data primer berupa wawancara dan data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta literatur relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola KBGO di Purwokerto cenderung berulang dalam bentuk sextortion, revenge porn, dan malicious distribution yang dilakukan melalui berbagai platform digital dengan motif ekonomi dan emosional. Korban KBGO didominasi oleh perempuan, baik anak-anak maupun perempuan dewasa, yang rentan akibat ketimpangan relasi kuasa, budaya patriarki, rendahnya literasi digital, serta minimnya pengawasan keluarga. Pelaku umumnya laki-laki dewasa yang memiliki hubungan personal dengan korban dan menggunakan ancaman sebagai sarana pengendalian. Penelitian ini juga menemukan bahwa hak restitusi bagi korban KBGO belum pernah diakomodasi dalam putusan pengadilan yang dianalisis, sehingga pemulihan korban belum optimal. Simpulan penelitian menegaskan bahwa penanggulangan KBGO tidak cukup hanya melalui pemidanaan, tetapi harus berorientasi pada perlindungan dan pemulihan korban. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan pendekatan korban, optimalisasi restitusi, serta peningkatan literasi digital sebagai strategi pencegahan KBGO.Kata Kunci: Kekerasan Berbasis Gender Online; Korban; Pelaku.