Moh. Hamim Assidiki
STIDKI Ar-Rahmah Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PARTICIPATORY BRANDING DALAM MENJAGA EKOSISTEM LINGKUNGAN DI MASJID PEMUDA RAHEELA BANDUNG Muhamad Zulfikar; Shobikhul Qisom; Moh. Hamim Assidiki
KOMITMEN: Jurnal Ilmiah Manajemen Vol. 7 No. 1 (2026): KOMITMEN: Jurnal Ilmiah Manajemen
Publisher : FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jim.v7i1.56341

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi strategi Participatory Branding di Masjid Pemuda Raheela, Bandung, dalam meningkatkan partisipasi jemaah dan generasi muda untuk menjaga ekosistem lingkungan. Masjid Pemuda Raheela, yang dikonstruksikan sebagai “Masjid Sunset di Kaki Gunung Manglayang”, dibina langsung oleh Ustadz Hanan Attaki dalam kawasan pendidikan pemuda bernama Pesan_Trend. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus, dengan pengumpulan data primer melalui observasi digital serta wawancara mendalam bersama informan kunci (takmir, pengelola unit Waste Management, siswa 20Mind High School, dan jemaah), serta data sekunder berupa dokumen program dan aktivitas media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Participatory Branding yang meliputi co-creation, engagement, collaboration, dan value sharing berhasil diimplementasikan melalui ekosistem pengelolaan lingkungan terintegrasi berbasis komunitas. Dimensi co-creation diwujudkan melalui proyek inovatif siswa seperti “Sampah Punya Cerita” dan program tata ruang “Dual Space”. Engagement dan collaboration dibangun melalui aktivitas harian pemilahan sampah di Waste Station serta budaya self-service mencuci piring mandiri. Sementara itu, value sharing digerakkan oleh internalisasi nilai teologis “Khalifah Fil Ardh” yang diakselerasi melalui strategi digital marketing dakwah melalui akun Instagram @wisepesantrend dengan slogan #LivingWithNature. Kendati demikian, gerakan ekologis ini masih menghadapi tantangan berupa belum adanya standarisasi SOP tertulis, ketergantungan pada figuritas ketokohan, dan inkonsistensi pengelolaan media akibat keterbatasan tim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi digital yang asyik dan inklusif mampu mengubah simpati digital menjadi partisipasi pelestarian lingkungan yang riil di dunia nyata.