Penelitian ini mengevaluasi implementasi sistem Point of Sale (POS) pada tahap pasca-adopsi di Café Roemah Oom Bob Lembang, sebuah UMKM kuliner yang telah memiliki kesiapan digital. Meskipun entitas bisnis ini telah mengintegrasikan sistem kasir digital premium sejak awal operasional, pemanfaatan fitur operasionalnya masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi underutilization sistem informasi dan kemunculan perilaku workaround di kalangan staf operasional pada jam sibuk (peak hours). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui desain studi kasus tunggal, data dihimpun melalui observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam semi-terstruktur bersama pemilik dan staf, serta kuesioner digital terhadap 15 pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan pemanfaatan (infusion gap) yang signifikan, di mana fitur analitik lanjutan diabaikan akibat ketidakstabilan konektivitas perangkat keras dan ketiadaan prosedur operasional baku. Dampaknya, staf melakukan workaround habituatif menggunakan nota kertas sebagai dokumen perantara pada jam sibuk demi menjaga kecepatan pelayanan. Sintesis model TAM dan Human-Computer Interaction mengungkap bahwa meskipun persepsi kemanfaatan bernilai tinggi, buruknya ergonomi antarmuka aplikasi menurunkan persepsi kemudahan penggunaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesiapan modal digital tidak serta-merta menjamin optimalisasi pasca-adopsi tanpa keselarasan prosedur kerja digital. Rekomendasi strategis yang diusulkan adalah migrasi ke infrastruktur printer kabel LAN yang stabil dan rekayasa ulang proses bisnis melalui integrasi sistem pemesanan mandiri berbasis QR-code.