Abdi Keraf
Program Studi Psikologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT STRES AKADEMIK DENGAN KONSUMSI MINUMAN ALKOHOL PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS NUSA CENDANA Fransisko Kua; Dian Anakaka; Abdi Keraf; Mariana Lerik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9658

Abstract

Stress is a natural response to excessive pressure and is often experienced by students due to academic demands such as coursework, exams, and thesis completion. An imbalance between academic demands and an individual's ability to cope can trigger academic stress, which affects physical and mental health and motivation to study. One coping mechanism that students often use to relieve stress is alcohol consumption, even though this behavior has the potential to cause adverse health and academic effects. This study aims to analyze the relationship between academic stress levels and alcohol consumption among final semester students at the Faculty of Public Health, Nusa Cendana University. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of 254 people. Academic stress levels were measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS), while alcohol consumption levels were measured using the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). Data analysis was performed using a correlation test. The results of the study showed a significant relationship between academic stress and alcohol consumption with a correlation coefficient of r = -0.892 and p = 0.000. This negative relationship indicates that the higher the level of academic stress experienced by students, the lower their tendency to consume alcohol.The majority of students were in the moderate stress category and had low alcohol consumption levels. The conclusion of this study shows that final semester students at the Faculty of Public Health, Nusa Cendana University, tend not to use alcohol as a coping mechanism in dealing with academic stress, even though they are in a highly stressful academic phase. ABSTRAK Stres merupakan respons alami individu terhadap tekanan yang berlebihan dan sering dialami oleh mahasiswa akibat tuntutan akademik seperti beban tugas, ujian, dan penyelesaian skripsi. Ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan kemampuan individu dalam menghadapinya dapat memicu stres akademik yang berdampak pada kondisi fisik, mental, dan motivasi belajar. Salah satu mekanisme koping yang kerap digunakan mahasiswa untuk meredakan stres adalah konsumsi minuman beralkohol, meskipun perilaku ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dan akademik yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dengan konsumsi minuman beralkohol pada mahasiswa semester akhir Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. populasi dalam penelitian ini sebanyak 254 orang. Tingkat stres akademik diukur menggunakan Perception of Academic Stress Scale (PASS), sedangkan tingkat konsumsi alkohol diukur menggunakan Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dan konsumsi alkohol dengan nilai koefisien korelasi r = -0,892 dan p = 0,000. Hubungan negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres akademik yang dialami mahasiswa, semakin rendah kecenderungan mereka untuk mengonsumsi alkohol. Mayoritas mahasiswa berada pada kategori stres sedang dan tingkat konsumsi alkohol rendah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa semester akhir Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana cenderung tidak menggunakan alkohol sebagai mekanisme koping dalam menghadapi stres akademik, meskipun berada pada fase akademik yang penuh tekanan.    
SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA ROBOABA, KECAMATAN SABU BARAT, KABUPATEN SABU RAIJUA Sakila Novirdia Ramadhani; Dian L. Anakaka; Shela C. Pello; Abdi Keraf
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8973

Abstract

Mental health is an essential factor influencing an individual's quality of life, including that of housewives who carry dual roles within the family and the community. Workload, economic pressure, and limited social support can increase the risk of mental health problems in this population. This study aims to describe the mental health condition of housewives in Roboaba Village, West Sabu District, Sabu Raijua Regency, with a specific focus on Daigama Hamlet. This research employed a quantitative descriptive design involving 87 housewives as respondents. The instrument used was the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29), developed by the World Health Organization (WHO), widely applied as a screening tool for mental health disorders. Data were analyzed using univariate methods and presented in frequency distributions and percentages. The results revealed that 58 respondents (66.7%) were indicated to have mental health problems, while 29 respondents (33.3%) showed no signs of such disorders. Based on the SRQ-29 dimensions, the most frequently reported symptoms were somatic symptoms (79.3%), followed by anxiety symptoms (64.4%), cognitive symptoms (62.1%), decreased energy (55.2%), trauma symptoms (54.0%), risk behaviors (54.0%), and depressive symptoms (48.3%). These findings indicate that housewives in Roboaba Village are highly vulnerable to mental health problems. Therefore, preventive and curative efforts are necessary, including increasing awareness of mental health, providing counseling services, and strengthening social support from families and the community. ABSTRAK Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup individu, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan masyarakat. Beban peran, tekanan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, dengan fokus lokasi di Dusun Daigama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 87 ibu rumah tangga. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang dikembangkan oleh WHO dan telah digunakan secara luas untuk skrining gangguan kesehatan mental. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yaitu sebanyak 58 orang (66,7%), sedangkan 29 orang (33,3%) tidak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental . Berdasarkan aspek SRQ-29, gejala yang paling banyak ditemukan adalah gejala somatik sebanyak 69 orang (79,3%), diikuti oleh gejala kecemasan 56 orang (64,4%), gejala kognitif 54 orang (62,1%), gejala penurunan energi 48 orang (55,2%), gejala trauma 47 orang (54,0%), perilaku berisiko 47 orang (54,0%), dan gejala depresi 42 orang (48,3%) . Ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Roboaba berada pada kondisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan intervensi melalui peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, penyediaan layanan konseling, serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat.