Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Tingkat Emotional Quotient Dengan Psychological Well Being Pada Mahasiswa Perantau di Universitas HKBP Nommensen Medan Cindi Handayani Gea; Karina Meriem Beru Brahmana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Juli
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i3.2024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Emotional Quotient dengan Psychological Well Being pada mahasiswa perantau di Universitas HKBP Nommensen Medan. Mahasiswa perantau menghadapi berbagai tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, seperti tekanan akademik, adaptasi sosial, kerinduan terhadap keluarga, serta tuntutan untuk hidup mandiri. Kemampuan dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi diduga berperan penting dalam mempertahankan kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian adalah mahasiswa perantau di Universitas HKBP Nommensen Medan yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel sesuai dengan kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Emotional Quotient dan skala Psychological Well Being. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara Emotional Quotient dengan Psychological Well Being pada mahasiswa perantau di Universitas HKBP Nommensen Medan dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,718 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi Emotional Quotient yang dimiliki mahasiswa perantau, maka semakin tinggi pula Psychological Well Being yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin rendah Emotional Quotient, maka semakin rendah pula Psychological Well Being. Hasil kategorisasi juga menunjukkan bahwa tingkat Emotional Quotient dan Psychological Well Being mahasiswa perantau secara umum berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Emotional Quotient memiliki hubungan yang kuat dan positif dengan Psychological Well Being pada mahasiswa perantau. Oleh karena itu, pengembangan kemampuan mengelola emosi perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa perantau.  
Pengaruh Fear Of Missing Out (Fomo) Terhadap Gaya Hidup Konsumtif Pada Mahasiswa Dalam Penggunaan Produk Kosmetik Sonia Purba; Karina Meriem Beru Brahmana
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Juli
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i3.2107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap gaya hidup konsumtif pada mahasiswa pengguna produk kosmetik di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif. Sampel penelitian berjumlah 292 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling, dengan karakteristik mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun, menggunakan produk kosmetik, dan aktif menggunakan media sosial. Data dikumpulkan menggunakan Skala Fear of Missing Out (FoMO) yang diadaptasi berdasarkan teori Przybylski et al. (2013) serta Skala Gaya Hidup Konsumtif yang disusun berdasarkan teori Solomon (2018), keduanya menggunakan model skala Likert. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap gaya hidup konsumtif pada mahasiswa pengguna produk kosmetik di Kota Medan (p = 0,000 < 0,05). Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 60,627 + 0,584X, yang menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan skor FoMO akan meningkatkan skor gaya hidup konsumtif sebesar 0,584. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,068 menunjukkan bahwa FoMO memberikan kontribusi sebesar 6,8% terhadap variasi gaya hidup konsumtif, sedangkan 93,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki mahasiswa, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menunjukkan gaya hidup konsumtif dalam penggunaan produk kosmetik.