Iwan Setiawan Adji
Faculty of Medicine, University Of Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jalan Ahmad Yani, Sukoharjo, 57169, Central Java, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh dari Ketorolac dan Metamizole terhadap Hemostasis: A Literature Review Iwan Setiawan Adji; Yasinta Rizky Wulandari; I Gede Budiastra Yandita Putra; Hetty Soelakmi Bekti; Firstiara Alifah Putriasari; Muhammad Ihsanul Fikri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24269

Abstract

ABSTRACT Ketorolac and metamizole are non-opioid analgesics widely used in perioperative practice, but both have the potential to affect hemostasis through different pharmacological mechanisms. Understanding this risk profile is essential to ensure patient safety. A literature review was conducted by evaluating experimental, observational, and clinical trials that addressed the effects of both drugs on platelet function, coagulation, and perioperative bleeding incidence. Ketorolac majorly inhibits thromboxane A₂ synthesis through COX-1 inhibition, thereby reducing platelet aggregation and increasing the risk of bleeding in certain procedures. Metamizole exhibits more heterogeneous effects; some studies report inhibition of platelet aggregation and interference with the effects of aspirin, while others show minimal impact on hemostasis. The choice of analgesic should consider the risk profile of each drug, the patient's clinical condition, and potential pharmacological interactions. An individualized approach is necessary to optimize analgesia while maintaining the integrity of perioperative hemostasis. Keywords: Ketorolac, Metamizole, Hemostasis, Blood Coagulation.  ABSTRAK Ketorolac dan metamizole merupakan analgesik non-opioid yang banyak digunakan dalam praktik perioperatif, namun keduanya memiliki potensi memengaruhi hemostasis melalui mekanisme farmakologis yang berbeda. Pemahaman terhadap profil risiko ini penting untuk memastikan keselamatan pasien. Tinjauan literatur dilakukan dengan mengevaluasi penelitian eksperimental, observasional, dan uji klinis yang membahas efek kedua obat terhadap fungsi trombosit, koagulasi, dan insiden perdarahan perioperative. Ketorolac secara garis besar menghambat sintesis tromboksan A₂ melalui inhibisi COX-1, sehingga menurunkan agregasi trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan pada prosedur tertentu. Metamizole menunjukkan efek yang lebih heterogen; sebagian studi melaporkan hambatan agregasi trombosit dan interferensi terhadap efek aspirin, sementara yang lain menunjukkan dampak minimal terhadap hemostasis. Pemilihan analgesik harus mempertimbangkan profil risiko masing-masing obat, kondisi klinis pasien, dan potensi interaksi farmakologis. Pendekatan individual diperlukan untuk mengoptimalkan analgesia sembari menjaga integritas hemostasis perioperatif. Kata Kunci: Ketorolac, Metamizole, Hemostasis, Pembekuan Darah.
Dampak Kerusakan Osteomeatal Complex terhadap Keberhasilan Terapi Sinusitis Maksillaris Kronis: Perbandingan Pendekatan Fisiologis (FESS) dan Non-Fisiologis (Caldwell-Luc): A Literature Review Iwan Setiawan Adji; Yasinta Rizky Wulandari; I Gede Budiastra Yandita Putra; Muhammad Ihsanul Fikri; Hetty Soelakmi Bekti; Firstiara Alifah Putriasari
Jurnal Dunia Kesmas Vol 15, No 1 (2026): Volume 15 Nomor 1
Publisher : Persatuan Dosen Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v15i1.24224

Abstract

Sinusitis maksillaris kronis merupakan bentuk rinosinusitis kronis yang paling sering dijumpai dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup. Gangguan ventilasi dan drainase sinus, terutama pada osteomeatal complex (OMC), berperan sentral dalam patofisiologi penyakit ini. Kerusakan atau obstruksi OMC dapat mempertahankan inflamasi kronis dan menjadi penyebab utama kegagalan terapi. Saat ini, Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) sebagai pendekatan fisiologis telah menggantikan prosedur non-fisiologis seperti Caldwell-Luc, meskipun masih digunakan pada indikasi selektif. Metode: Penelitian ini merupakan kajian literatur integratif terhadap publikasi sepuluh tahun terakhir yang membahas peran OMC serta luaran klinis FESS dan Caldwell-Luc. Pencarian dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan Scopus, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan deduktif. Hasil: kerusakan atau obstruksi OMC berhubungan erat dengan kegagalan terapi dan kekambuhan. FESS menunjukkan hasil klinis yang lebih baik, pemulihan mukosiliar optimal, serta komplikasi lebih rendah dibandingkan Caldwell-Luc. Diskusi: Keberhasilan terapi jangka panjang sangat bergantung pada pemulihan patensi dan fungsi OMC melalui pendekatan fisiologis. Kesimpulan: FESS merupakan pilihan utama pada sinusitis maksillaris kronis, sedangkan Caldwell-Luc dipertimbangkan secara selektif sesuai indikasi klinis.