Budiman, Kalvin S.
Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aquinas, Konsili Trent, dan Luther Tentang Pembenaran oleh Iman : Sebuah Isu tentang Kontinuitas dan Diskontinuitas Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.17 KB)

Abstract

Dialog akhir-akhir ini yang terus-menerus digalakkan di antara kalangan Protestan dan Katolik mengenai doktrin pembenaran telah menghasilkan pemulihan-pemulihan teologis yang tidak kecil antara kedua kelompok tersebut. Salah satu kesinambungan yang menjanjikan yang muncul dari doktrin pembenaran dan perlu digarisbawahi adalah relasi antara Luther dan teologi pembenaran Konsili Trent melalui ajaran Thomas Aquinas tentang doktrin yang sama. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Otto H. Pesch, jika kita membaca kanon-kanon Konsili Trent dari perspektif teologi Thomistik, sebuah persetujuan dengan teologi Luther akan nampak. Pendapat ini dan studi-studi historis lain menyingkapkan fakta bahwa meski Luther mengeritik dengan tajam Thomas Aquinas sebagai “sumber dan akar semua ajaran sesat dan pemalsuan berita Injil (sebagaimana yang ditunjukkan oleh tulisan-tulisannya),” ia sesungguhnya tidak banyak menyediakan waktu untuk membaca secara langsung karya-karya tulis Aquinas. Dengan kata lain, Luther menolak ajaran Aquinas tentang doktrin pembenaran bukan karena ia menolak pandangan Aquinas tetapi karena ia salah memahami ajaran Aquinas. Atau, sikap Luther terhadap pandangan pembenaran Aquinas lebih mencerminkan kesalahpahaman terhadap Aquinas oleh pendahulu-pendahulu Luther, yang mana melalui mereka ia mengenal Aquinas. Berangkat dari penemuan-penemuan baru dalam studi sejarah Reformasi belakangan ini, topik tentang kesinambungan antara Thomas Aquinas, Konsili Trent, dan Luther tentang doktrin pembenaran adalah sesuatu yang patut untuk dipelajari. Menurut saya upaya semacam ini bukan semata-mata cerminan keinginan ekumenis akan kesatuan yang cenderung mengabaikan dan mengurangi perbedaan-perbedaan substansial ke dalam perbedaan-perbedaan minor saja. Sebaliknya, pembacaan yang cermat terhadap konteks historis Konsili Trent dan Luther akan menghasilkan suatu pemahaman bahwa, meski fakta pertentangan tidak dapat disingkirkan, ada suatu kontinuitas yang jelas antara teologi Trent dan Luther tentang pembenaran khususnya jika kita membaca perbedaan di antara keduanya dari perspektif teologi Thomas Aquinas. Sebab itu, dari perspektif sejarah, karya kontemporer seperti “The Lutheran-Roman Catholic Joint Decalaration on the Doctrine of Justification,” jauh dari mewakili harmonisasi yang palsu, telah menjanjikan harmonisasi yang sejati. Dengan demikian, artikel ini merupakan suatu upaya untuk menyingkapkan arah Thomistik di dalam pemikiran teologis imam-imam dari Konsili Trent dan beberapa kontinuitas serta diskontinuitas antara Luther dan Aquinas. Saya akan mulai dengan meluruskan relasi Luther-Aquinas berdasarkan studi-studi historis belakangan ini. Setelah itu, saya akan mengkaji teologi Thomistik di dalam Konsili Trent. Bagian terakhir merupakan penjelasan tentang hakikat kesinambungan antara Luther dan teologi Trent tentang pembenaran dengan mengamati beberapa kanon yang diputuskan dalam Konsili Trent, di mana teologi Luther dilibatkan.
Calvin dan Lima Pilar Institusi Sosial Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 2 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.199 KB)

Abstract

Lima pilar institusi sosial yang dimaksud adalah keluarga, gereja, pemerintah, ekonomi, dan pendidikan. Kelima pilar ini bukan kategori yang baku. Kelima pilar institusi sosial tersebut adalah metode pendekatan yang penulis pakai untuk membaca pemikiran John Calvin. Melalui metode tersebut, penulis bermaksud untuk menarik prinsip-prinsip etika sosial dari tulisan-tulisan Calvin. Dengan kata lain, ia sendiri tidak pernah membakukan kelima hal ini sebagai “pilar-pilar kehidupan sosial.” Namun hal itu tidak berarti bahwa ia sama sekali tidak berbicara tentang sektor-sektor kehidupan sosial. Sebaliknya, penulis mendapati aplikasi sosial yang sangat luas dari teologi theocentric (berpusat pada kedaulatan Allah) yang ia pegang dengan setia. Untuk menggarisbawahi keunikan teologi sosial yang Calvin pegang, penulis akan membandingkan pemikiran Calvin dengan kecenderungan-kecenderungan sekular dari budaya pada zaman sekarang. Tentu saja dalam wadah yang terbatas ini, penulis tidak memiliki ruang yang cukup untuk memaparkan secara rinci seluruh aspek teologis dan moral yang terkandung dalam masing-masing institusi sosial yang akan dibicarakan. Penulis akan selektif dan memfokuskan pembahasan pada aspek “otoritas” yang lahir dari teologi theocentric dalam pemikirannya.
Habitus dalam Mengikut Kristus: Kaitan antara Etika Karakter dan Spiritualitas Kristen Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.103 KB)

Abstract

Di dalam buku Fabricating Jesus, Craig Evans mengawali tulisannya dengan kisah singkat tentang pergeseran kehidupan rohani dari beberapa pakar Alkitab. Di antaranya adalah James Robinson, seorang ahli Perjanjian Lama, yang pada masa mudanya memiliki iman yang Injili, tetapi, menurut pengakuannya sendiri, imannya dihancurkan setelah ia berkenalan dengan higher criticism atau metode kritis dalam membaca Alkitab. Tokoh yang lain lagi adalah Robert Price, seorang ahli Perjanjian Baru, yang dididik di sekolah Injili yang cukup kuat—Gordon Conwell Theological Seminary. Pada masa mudanya ia bahkan pernah secara aktif terlibat dalam pelayanan kelompok Injili yang dikenal dengan sebutan Intervarsity. Tetapi setelah menyelesaikan studi doktoralnya akhirnya ia justru sekarang menjadi seorang agnostik. Satu contoh lagi adalah Bart Erhman, juga seorang pakar Perjanjian Baru. Di awal jenjang akademiknya ia belajar di sekolah-sekolah Injili (Moody Bible Institute dan Wheaton College), tetapi setelah menyelesaikan studi Ph.D. di Princeton Seminary, ia justru tidak lagi mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan. Menurut kacamata orang-orang Injili, beberapa contoh perjalanan hidup di atas merupakan sebuah kemunduran, bahkan kegagalan rohani. Di lain pihak, contoh-contoh seperti di atas juga sekaligus menyadarkan kita tentang proses perjalanan rohani sebagai bagian dari pertanggungjawaban iman. Saya percaya kita tidak boleh dengan gampang melempar tanggung jawab kehidupan rohani kita kepada Tuhan dengan berkata, misalnya, “Kalau kita ini memang orang pilihan, pertumbuhan rohani kita juga pasti dijamin oleh Tuhan.” Sebagai seorang Calvinis, saya tidak menyangkali sentralitas anugerah keselamatan dari Tuhan dalam perjalanan iman kita. Tetapi saya juga percaya bahwa anugerah keselamatan tidak berarti bahwa Tuhan mengambil alih seluruh proses perjalanan iman kita dan meniadakan tanggung jawab rohani dari diri kita. Justru karena anugerah itulah, maka kita dapat dengan bebas dan merdeka memulai peperangan rohani untuk mematahkan setiap cobaan dan dosa yang ada dalam diri kita dan di sekitar kita. Diogenes Allen dalam bukunya Spiritual Theology mengingatkan dengan tepat bahwa jika kita memberikan penekanan yang berlebihan pada pengalaman pertobatan atau fase awal kehidupan rohani kita, kita cenderung lupa atau beranggapan bahwa dengan sudah lahir baru dan bertobat maka kita telah mencapai tujuan akhir perjalanan hidup rohani. Padahal kelahiran baru dan pertobatan tersebut perlu sungguh-sungguh diwujudkan. Pada waktu kita menjalani kehidupan rohani sehari-hari, baru kita menyadari betapa sulitnya dan betapa banyaknya tantangan yang harus diatasi untuk dapat maju secara rohani, misalnya, tadinya tidak dapat mengasihi sesama menjadi dapat mengasihi sesama dengan tulus; atau tadinya pemarah menjadi seorang yang sabar dan dapat bertekun dalam kesabarannya. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara otomatis. Ada jurang yang lebar dan jalan yang berliku-liku di antara kedua fase tersebut. Di dalam Injil kita membaca ada lebih dari satu kali ketika Tuhan Yesus mengetahui orang berbondong-bondong mengikuti Dia atau mau menjadi murid-Nya, Ia mengambil waktu untuk menguji kesungguhan hati mereka (lihat a.l. Luk. 9:57-62; 14:25-35; Yoh. 6:60-71). Saya percaya bahwa latihan rohani merupakan bagian utama dari pertanggungjawaban iman Kristen di hadapan Tuhan. Di dalam konteks latihan rohani atau pembentukan spiritualitas Kristen itulah penulis melihat adanya manfaat yang dapat dipetik dari kaitan antara spiritualitas Kristen dengan salah satu prinsip utama dalam virtue ethics atau etika karakter. Salah satu prinsip utama dalam etika karakter yang penulis maksud di sini adalah konsep tentang habitus, yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai “kebiasaan.” Prinsip yang kedengarannya polos dan sederhana ini, di dalam konteks iman Kristen dapat memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Karena itu, dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, penulis ingin mencoba mengaitkan pemahaman tentang habitus dengan teori tentang pembentukan spiritualitas Kristen.
Filsafat Judi, Etika Sekuler, dan Erosi Iman Budiman, Kalvin S.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.94 KB)

Abstract

Konsep filsafat di balik judi adalah sebuah paham yang pada dirinya sendiri (in itself) mengandung kesalahan secara moral. Penulis akan menunjukkan hal tersebut melalui dua cara: pertama, berdasarkan etika sekuler; kedua, dari sudut pandang dampak judi sebagai sebuah erosi kehidupan iman Kristen.