Lie, Bedjo
Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Benarkah Yesus Tidak Mati Disalib? : Sebuah Pertanggungjawaban Iman terhadap Pandangan Islam Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.917 KB)

Abstract

Belum lama ini, penulis tertarik dengan sebuah buku kecil laris yang dikarang oleh Hj. Irene Handono. Buku ini secara terang-terangan menolak fakta kematian Yesus Kristus atau Isa Almasih di kayu salib. Senada dengan itu, sebuah buku sensasional berjudul Jangan Ditunggu!!! Isa Bin Maryam Tidak Akan Turun di Akhir Zaman (Ready or Not Jesus is Not Coming) yang ditulis oleh Huttaqi juga menegaskan keyakinan yang sama dalam salah satu bagiannya: Yesus atau Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib. Andaikata fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib memang dongeng belaka, apakah yang akan terjadi dengan kekristenan? Dengan mudah kita berimajinasi bahwa seluruh bangunan kekristenan akan runtuh pada saat yang bersamaan. Ah, itu kan hanya imajinasi! Mungkin Anda berpikir demikian. Akan tetapi, penegasan bahwa Nabi Isa tidak mati disalib benar-benar sebuah gema yang kuat dalam tulisan-tulisan Islam. Tentu saja hal ini adalah klaim serius yang perlu ditanggapi oleh orang Kristen. Sebelum kita memasuki topik tersebut lebih dalam lagi. Mari kita mulai dengan tanggapan pembuka terlebih dahulu. Pertama, dalam konteks tren pluralisme teologis yang berusaha menyamaratakan semua agama, penulis ingin memberikan applause atas kegigihan pribadi-pribadi seperti Irene Handono dan teman-temannya yang mengumandangkan eksklusivitas teologi agamanya secara terbuka. Kedua, buku-buku yang bersikap skeptis dan mempertanyakan keyakinan Kristen seperti di atas sering kali mendatangkan manfaat positif bagi umat Kristen, yaitu bangkitnya kesadaran berapologetika. Oleh karena itu, pertama-tama, lebih baik kita mengucapkan matur nuwun kepada penulis buku-buku di atas. Selanjutnya, matur nuwun saja rasanya tidak cukup. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis ingin mewujudkan penghargaan tersebut dengan cara menegaskan perbedaannya dengan pandangan Kristen sambil tetap membangun rasa hormat terhadap pribadi-pribadi yang berbeda pandangan. Oleh karena itu, tulisan ini akan memaparkan pandangan Islam terhadap fakta kematian Yesus Kristus di kayu salib dan kemudian dilanjutkan dengan perspektif Kristen terhadap isu krusial ini. Terakhir, penulis ingin mengembangkan pengakuan atas perbedaan doktrin sebagai dasar toleransi sejati dalam relasi antar umat beragama.
Penderitaan menurut Agama Buddha : Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Kristen Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 2 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.589 KB)

Abstract

Banjir lumpur, gempa bumi, tsunami dan kemiskinan, mungkin itulah yang kita pikirkan ketika berbicara tentang penderitaan di Indonesia. Kita hidup dalam konteks bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensi plus tertimpa banyak bencana baik yang alami maupun ”buatan.” Dalam kondisi seperti ini, terkadang kita tergoda untuk berpikir bahwa hidup di Indonesia sungguh tidak mengenakkan. Lalu pikiran kita menerawang dan berimajinasi untuk tinggal di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang dan berpikir bahwa kondisi di sana akan jauh lebih baik. Tetapi, pikiran demikian tentu tidak benar. Itu adalah mitos dan bukan fakta. Yang terjadi adalah penderitaan merupakan bagian dari umat manusia di manapun ia berada, di negara maju, maupun yang kurang maju, kecil maupun besar, komunis maupun kapitalis, beragama maupun sekuler. Hanya bentuk, tingkatan dan penyebabnya saja yang berbeda-beda. Penderitaan adalah fakta universal! Penderitaan juga melampaui horison waktu, ia ada dulu, sejak zaman dahulu kala sampai sekarang dan juga di masa mendatang. Penderitaan adalah fakta yang tidak hanya universal tetapi juga “seolah-olah” abadi. Justru karena itulah, berbicara mengenai penderitaan merupakan hal yang menarik, paling tidak bagi orang yang punya keprihatinan dan mau berkontemplasi tentang kehidupan. Sidharta Gautama (563-483 SM) adalah jenis orang seperti itu. Sebagai seorang guru, pendiri agama Buddha, ia adalah orang yang dianggap memiliki banyak hikmat dan kebijaksanaan. Akan tetapi jikalau kita memperhatikan pengajarannya yang utama, maka kita akan segera menemukan tema sentral penderitaan dalam pengajarannya. Kebenaran-kebenaran mengenai penderitaan ini terangkum dalam pengajarannya yang disebut Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truths). Dalam tulisan ini, kita akan memberikan tinjauan kritis atas pengajaran Buddha tentang penderitaan yang terdapat dalam Empat Kebenaran Mulia. Oleh karena itu, maka tulisan ini akan mengalir sebagai berikut. Pertama, sejarah singkat kehidupan Buddha sampai dengan masa ia mengalami pencerahan. Hal ini penting untuk menyediakan konteks lahirnya pemikiran Buddha tentang penderitaan. Kedua, pemaparan mengenai konsep penderitaan dalam Empat Kebenaran Mulia. Selanjutnya, tinjauan kritis atas konsep Empat Kebenaran Mulia tersebut dari sudut pandang Kristen. Terakhir, sebuah kesimpulan dan aplikasi.
Bagaimana Kaum Injili Memandang Gereja Katolik? Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 1 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.099 KB)

Abstract

Ribuan jemaat Katolik berkumpul di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC) pada bulan November 2007 yang lalu. Kegiatan KKR yang bernuansa Katolik karismatik ini telah menjadi gerakan yang makin terasa di Indonesia. Sekilas, gerakan ini telah “mendekatkan” Katolik dengan kaum Protestan, khususnya kalangan karismatik. Di sisi lain, usaha pembelaan iman Katolik terhadap keberatan-keberatan teologis kaum Protestan juga makin terasa akhir-akhir ini di Indonesia. Tambah maraknya buku Katolik yang bernada apologetik terhadap Protestan semakin memperlebar jurang antara umat Katolik dan Kristen Protestan. Dalam rangka memikirkan relasi antara kaum Katolik dan Protestan ini, beberapa paradigma relasi muncul dalam benak penulis. Apakah gereja Katolik dapat dipandang sebagai saudara, pesaing, atau musuh? Bagaimana jika pilihan ini diajukan kepada Anda yang berasal dari golongan Protestan khususnya injili dalam memandang gereja Katolik Roma? Sebaliknya juga penting, bagaimanakah perspektif gereja Katolik dalam memandang kaum injili? ... Pembahasan tulisan ini akan mengalir sebagai berikut: Pertama, akan dipaparkan mengenai sekilas pandang pergeseran pandangan gereja Katolik terhadap doktrin kesatuan gereja yang meliputi sikap mereka terhadap gereja-gereja lain di luar gereja Katolik. Kedua, argumentasi biblis dan tradisi untuk mendukung doktrin kesatuan gereja menurut gereja Katolik. Ketiga, penulis akan menyampaikan suatu tinjauan kritis atas pandangan Katolik tersebut. Pada bagian akhir, beberapa pemikiran tentang hubungan antara kaum injili dan Katolik akan diajukan sebagai kesimpulan dan aplikasi.  
Fenomena Buku The Secret, A New Earth dan Spiritualitas ala Oprah Winfrey : Bagaimanakah Gereja Menyikapinya? Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.38 KB)

Abstract

Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia. Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca. Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan teologi dalam kedua buku tersebut. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey.
Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara Stoa dan Kristen Lie, Bedjo
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.634 KB)

Abstract

Di dalam artikel ini, penulis akan berargumentasi bahwa pandangan Kristen dan Stoa tentang kebahagiaan memiliki kesamaan signifikan yang membedakannya dengan pandangan popular modern tentang kebahagiaan Sejalan dengan Stoisisme, kekristenan lebih menekankan sisi obyektif dari kebahagiaan sebagai sesuatu yang jauh dari sekadar feeling good namun lebih terkait dengan karakter manusia. Bagi keduanya, kebahagiaan lebih merupakan kondisi etis daripada psikologis manusia. Hal ini secara jelas bertentangan dengan konotasi modern dari kata kebahagiaan yang menekankan sisi subyektif psikologis seperti perasaan senang atau puas dari manusia. Di sisi lain, penulis akan berargumentasi bahwa prasuposisi utama yang menopang konsep kebahagiaan Stoisisme bertentangan dengan wawasan dunia Kristen. Sebagai akibatnya, perilaku dan emosi yang diidolakan oleh Stoisisme menjadi bertentangan dengan Alkitab, secara khusus sebagaimana diajarkan dan dihidupi oleh Tuhan Yesus saat di bumi. Artikel ini akan dimulai dengan deskripsi pandangan Stoa tentang kebahagiaan dan peran dari kebaikan-kebaikan eksternal di dalamnya. Tanpa meninggalkan yang lain, maka tokoh Stoa yang lebih banyak dirujuk dalam tulisan ini adalah Lucius Annaeus Seneca (4 BC – 65 AD) yang hidup sezaman dengan Yesus. Ajaran Seneca sendiri telah dihargai oleh tokoh-tokoh Kristen mula-mula seperti Tertulianus, Jerome dan Agustinus. Selanjutnya, perspektif Stoisisme tersebut akan dibandingkan dengan kekristenan, terutama Sabda Bahagia Yesus dalam Kotbah di Bukit (Matius 5) yang memuat konsep kebahagiaan (makarisme) Kristen. Akhirnya, penulis akan memberikan sebuah analisa persamaan dan perbedaan dari kedua pandangan di atas sambil menunjukkan implikasinya bagi spiritualitas Kristen. Mari kita mulai dengan pandangan Stoisisme tentang kebahagiaan.