Sitanggang, Murni H.
Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Kritis terhadap Konsep Kemungkinan Orang Percaya Dirasuk Setan Sitanggang, Murni H.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.177 KB)

Abstract

“Kemungkinan orang percaya dirasuk Setan” merupakan topik yang sering diperdebatkan dalam ruang lingkup peperangan rohani. Sebagian teolog yakin bahwa orang percaya tidak dapat dirasuk oleh Setan sebab ia sudah sepenuhnya menjadi milik Kristus. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang lain, ada “orang Kristen” yang dapat dirasuk oleh roh jahat. Penulis sendiri pernah mendengar dan menjumpai kasus semacam ini. Bahkan, apa yang terjadi di lapangan ini telah membuat beberapa teolog injili beralih haluan, mempercayai bahwa orang Kristen dapat dirasuk Setan. Alkitab, baik PL maupun PB, mencatat bahwa Raja Saul pernah diusik oleh roh jahat, padahal ia adalah raja yang diurapi Allah. Dicatat pula bagaimana Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!” kepada Petrus, salah seorang murid yang dekat pada-Nya (Mat. 16:23). Yohanes 13:27 juga menceritakan bagaimana Iblis telah merasuki Yudas Iskariot, salah seorang dari dua belas murid yang dipilih sendiri oleh Yesus. Tidak hanya itu, dalam Kisah Para Rasul 5, Petrus mengatakan bahwa hati Ananias dan Safira telah dikuasai Iblis padahal jelas diketahui bahwa Ananias dan Safira adalah anggota-anggota komunitas gereja mula-mula. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi pada orang-orang ini, jika tetap menolak pernyataan bahwa “ada kemungkinan orang Kristen dapat dirasuk Setan”? Bukankah contoh-contoh di atas terjadi pada “orang-orang percaya”? Perlu digrasibawahi bahwa mereka bukan orang-orang biasa melainkan tokoh-tokoh yang tercatat namanya dalam Alkitab. Karena itu, melalui artikel ini, penulis akan berusaha meneliti topik ini secara lebih dalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah orang Kristen memang dapat dirasuk Setan, apakah hal ini terjadi dalam kasus-kasus tertentu saja, atau apakah hal ini dapat terjadi dalam beberapa tingkatan tertentu, seperti yang telah diajukan oleh beberapa teolog, di antaranya Ed Murphy, Merrill Unger dan Fred Dickason? Menurut penulis, topik ini penting untuk dibahas agar pembaca dapat mengetahui ajaran yang sesuai dengan firman Tuhan. Alasannya sederhana, ajaran yang menyimpang dari kebenaran akan menghasilkan kebingungan yang dapat menjurus kepada kesesatan dan hal ini sangat berbahaya. Apalagi, belakangan ini begitu populer ajaran dan praktik pelepasan yang dianggap sebagai cara cepat untuk mengatasi pelanggaran dan dosa manusia, dan untuk memenangi peperangan rohani melawan kuasa jahat. Hal-hal demikian merupakan implikasi dari pengajaran yang meyakini bahwa “orang percaya dapat dirasuk Setan.” Orang Kristen tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa “Iblis masih dapat menggoda dan mempengaruhi orang Kristen,” karena Alkitab memang mengajarkan demikian (Ef. 4:27; 1Pet. 5:8). Namun, apakah pengaruh Setan tersebut dapat menguasai orang percaya sepenuhnya? Ini perlu dipelajari dengan seksama dalam terang firman Tuhan. Dengan demikian, pada akhirnya, dapat dipahami apakah Alkitab setuju dengan pandangan “orang Kristen dapat dirasuk oleh Setan.”
Teologi Biblika mengenai Perpuluhan Sitanggang, Murni H.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 12 No 1 (2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.059 KB)

Abstract

Perpuluhan merupakan salah satu aspek penting dalam hal memberi yang tak dapat diabaikan dalam kehidupan material segenap umat Tuhan, yang sangat tertib pelaksanaannya di masa PL. Selain itu, perpuluhan merupakan salah satu sistem pengelolaan keuangan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Akan tetapi perpuluhan ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap kontroversial. Ada yang menganggap praktik ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, hanya berlaku di zaman PL di bawah hukum Taurat Musa, namun ada pula yang dengan tertib mematuhinya. Itu sebabnya penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut berbagai kontroversi seputar ajaran ini dan bagaimana sesungguhnya pengajaran Alkitab mengenai perpuluhan. Apakah perpuluhan masih relevan dilakukan di zaman sekarang ini? Atau itu hanya berlaku di zaman PL saja? Sebab ada yang beranggapan memberi perpuluhan adalah mekanisme hukum Taurat, sementara Tuhan Yesus sendiri sudah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib sehingga segala bentuk mekanisme Taurat tidak membebani kita lagi. Apa dan bagaimana solusi yang tepat seputar kontroversi dan relevansi perpuluhan di masa kini, itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Masturbasi Ditinjau dari Perspektif Etika Kristen Sitanggang, Murni H.
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.305 KB)

Abstract

Topik ini telah menjadi bahan perdebatan yang tiada habis hingga kini. Walau Alkitab memang tidak membicarakan masalah ini secara jelas, bukan berarti kita tidak dapat menjadikannya sebagai narasumber dan tolak ukur kita dalam memecahkan masalah ini. Sebagai umat Tuhan kita wajib menjadikan Alkitab sebagai standar utama dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam membahas topik ini kita juga tak boleh mengenyampingkan kenyataan bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk seksual.5 Sebagai makhluk seksual berarti manusia diperlengkapi dengan gairah seksual yang harus tersalurkan. Bagi sebagian orang melakukan masturbasi bukan masalah karena dipandang sebagai salah satu sarana yang aman dalam menyalurkan hasrat seksual seseorang, apalagi bagi mereka yang berada di luar pernikahan. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa selain sebagai makhluk seksual, manusia juga diciptakan Tuhan sebagai makhluk spiritual. Oleh sebab itu setiap aktivitas dalam hidup kita harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini yang menjadi pertanyaan utama yang hendak dijawab dalam artikel ini: apakah masturbasi tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan dan natur manusia, baik sebagai makhluk seksual maupun makhluk spiritual. Bila memang tidak bertentangan, tentunya kita tidak dapat menyatakannya sebagai dosa, namun bila ternyata bertentangan, sudah jelas itu merupakan dosa yang tidak boleh kita lakukan. Dalam memecahkan masalah ini, selain menjadikan Alkitab sebagai tolak ukur utama, penulis juga akan melihat dari sudut pandang psikologi dan kesehatan agar memperoleh pandangan yang komprehensif sehingga dapat menghasilkan jawaban yang objektif. Selain itu ruang lingkup pembahasan dipersempit dengan hanya membahas topik ini sebagai aktivitas seksual yang dilakukan sebelum atau di luar pernikahan.