TUTI ROHANI
PRODI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT, FAKULTAS ILMU KESEHATAN, UNIVERSITAS DEHASEN BENGKULU

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2025 AUULIA FUJINA; HARTIAN PANSORI; TUTI ROHANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 14 No 1 (2026)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v14i1.11482

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Kabupaten Bengkulu Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Pino Raya tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebanyak 89 ibu yang memiliki balita usia 24–60 bulan yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Variabel independen meliputi usia perkawinan ibu, tingkat pengetahuan ibu, riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), kondisi sanitasi lingkungan, dan pola asuh, sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel independen berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada analisis bivariat (p < 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa riwayat BBLR merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting, di mana balita dengan riwayat BBLR memiliki risiko 3,8 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita tanpa riwayat BBLR (OR = 3,828; p = 0,029). Selain itu, usia perkawinan ibu juga menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian stunting. Disimpulkan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh faktor biologis, maternal, dan lingkungan, dengan BBLR sebagai determinan utama. Intervensi pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil, pencegahan BBLR, edukasi gizi, serta perbaikan sanitasi dan pola asuh.
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KABUPATEN BENGKULU SELATAN TAHUN 2025 RESMI DARTI; YUNITA THERESIANA; TUTI ROHANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 14 No 1 (2026)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v14i1.11502

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Bengkulu Selatan dan berkaitan erat dengan kondisi sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian DBD serta menentukan faktor yang paling dominan. Penelitian ini menggunakan desain case–control dengan jumlah sampel 232 responden, terdiri dari 116 kasus dan 116 kontrol. Variabel independen meliputi kondisi tempat penampungan air, sistem pengelolaan sampah, dan kondisi lingkungan rumah, sedangkan variabel dependen adalah kejadian DBD. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square dan Odds Ratio (OR), serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kondisi tempat penampungan air (OR = 1,75; p = 0,035), sistem pengelolaan sampah (OR = 1,81; p = 0,025), dan kondisi lingkungan rumah (OR = 2,20; p = 0,003) berhubungan signifikan dengan kejadian DBD. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kondisi lingkungan rumah merupakan faktor paling dominan (Adjusted OR = 2,36; 95% CI = 1,36–4,08). Kesimpulannya, sanitasi lingkungan berhubungan dengan kejadian DBD di Kabupaten Bengkulu Selatan, dengan kondisi lingkungan rumah sebagai faktor dominan. Oleh karena itu, pencegahan DBD perlu difokuskan pada perbaikan lingkungan rumah melalui penguatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).