Romlah Abubakar Askar
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RECONFIGURATION OF LIVING HADITH IN THE DIGITAL SPACE: BETWEEN AUTHENTICITY OF TRANSMISSION AND POPULARIZATION OF ISLAMIC EDUCATION CONTENT ON SOCIAL MEDIA Muhammad Sabari; Willy Pauzan Alfi; M. Suparta; Romlah Abubakar Askar
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/quhas.v15i1.51404

Abstract

The rapid expansion of social media has transformed how ḥadīth-based Islamic educational content is produced, transmitted, and consumed. This study examines the reconfiguration of living ḥadīth in digital spaces, focusing on the tension between classical ḥadīth transmission authenticity and social media popularization demands. Employing a qualitative design integrating Critical Discourse Analysis (CDA) of content on Instagram, TikTok, and YouTube with phenomenological interviews of 12 content creators and 15 audience participants, the study identifies three dominant discursive patterns: textual-visual repackaging, narrative embodiment, and scholarly mediation. Findings reveal a structural ‘authenticity-popularity paradox’ wherein platform algorithmic logic systematically disadvantages the scholarly apparatus of classical ḥadīth transmission. A Reconstructive Living Ḥadīth Model for Digital Spaces (RLHM-DS) is proposed as a normative-qualitative framework operating across three levels, i.e.,  Production, Platform, and Reception, for improving ḥadīth transmission quality in Islamic digital education. The study contributes an integrated application of Fairclough’s CDA with classical isnād-based authenticity standards and living ḥadīth theory within the Indonesian Islamic education context, addressing a gap in the existing literature that has yet to systematically combine these analytical traditions. 
Membaca Hadis dengan Kacamata Hermeneutika: Urgensi Asbab al-Wurud di Era Modern Cika Auliya Nurrohmah; Romlah Abubakar Askar; Miftahuddin
Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Juli 2026: Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/amorti.v5i3.1078

Abstract

Hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur'an memiliki peran sentral dalam membentuk tatanan teologi, hukum, dan etika umat Islam. Namun, sebagai teks yang lahir pada abad ke-7 dalam konteks sosial-budaya Arab yang sangat spesifik, hadis menghadapi tantangan serius dalam hal relevansi dan aplikasinya di era modern yang ditandai oleh globalisasi, pluralisme, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimana teks masa lalu dapat tetap bermakna dan memberikan petunjuk bagi konteks yang berbeda secara fundamental. Penelitian ini bertujuan mengkaji urgensi pendekatan hermeneutika dalam studi hadis kontemporer, dengan fokus khusus pada integrasinya bersama konsep asbab al-wurud sebagai jembatan antara teks dan konteks. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis isi (content analysis) terhadap sumber-sumber primer dan sekunder yang mencakup karya Muhammad Syuhudi Ismail, Fazlur Rahman, Khaled Abou El-Fadl, dan sarjana relevan lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika dan asbab al-wurud bersifat komplementer, bukan kontradiktif. Asbab al-wurud menyediakan fondasi historis-konkret tentang latar kemunculan hadis, sementara hermeneutika menawarkan kerangka filosofis-metodologis untuk memproyeksikan nilai-nilai universal hadis ke dalam konteks kekinian melalui mekanisme double movement. Integrasi keduanya memungkinkan pemahaman hadis yang tidak ahistoris, memperkuat dimensi moral dan maqasid al-syari'ah, sekaligus mencegah misinterpretasi yang bersifat parsial. Meskipun demikian, pendekatan ini tetap memiliki batasan berupa risiko relativisme dan subyektivitas interpretasi, sehingga harus diimbangi dengan komitmen terhadap kritik sanad dan tradisi keilmuan Islam yang otentik.