Kecemasan merupakan respon psikologis yang muncul akibat adanya stresor dan dapat memengaruhi kondisi emosional, fisik, serta kemampuan individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kecemasan yang dirasakan dipengaruhi juga dari faktor internal seperti pola pikir, kepercayaan diri, kondisi fisik, dan kemampuan mengelola emosi, faktor lain yakni ekternal seperti dari lingkungan keluarga, sekolah, akademik, teman sebaya, lingkungan sosial dan ekonomi, yang dapat menyebabkan tingkat kecemasan pada remaja mudah dirasakan. Tingkat kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap tingkat kecemasan pada siswa remaja di smpn Ix kota gorontalo. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan one group pre-test post-test, melibatkan 27 remaja yang mengalami kecemasan, Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum psikoedukasi, 48,2% responden mengalami kecemasan ringan, 37% cemas sedang, 14,8% cemas berat, sedangkan setelah psikoedukasi, 25,9% responden tidak cemas, 51,9% cemas riny, 22,2% cemas sedang. Uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value < 0,001, yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan intervensi Psikoedukasi dalam menurunkan tingkat Kecemasan. Hal menunjukan bahwa pemberian psikoedukasi mampu menurunkan tingkat kecemasan pada siswa remaja yang dari 23.63% menurun menjadi 17.96%, Maka dengan itu perlu adanya psikoedukasi dapat dijadikan sebagai bagian dari program rutin bimbingan dan konseling (BK) untuk membantu siswa dalam mengelola tingkat kecemasan dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneiliti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada siswa remaja.