Ted Jones Lauda Woy
Universitas Klabat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kepemimpinan Perempuan Dalam Narasi Debora: Kajian Hakim-Hakim 4–5 Douglas Sepang; Fellix Gosal; Ted Jones Lauda Woy
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.B (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sosok Debora dalam Hakim-hakim 4–5 menampilkan perpaduan tiga fungsi kepemimpinan, yakni hakim (shofet), nabiah (nevi’ah), dan pemimpin militer—suatu kombinasi yang nyaris tidak dijumpai pada tokoh lain dalam Perjanjian Lama. Penelitian-penelitian terdahulu pada umumnya mendekati ketiga fungsi tersebut secara terpisah: kajian kepemimpinan perempuan mengedepankan dimensi gender, kajian kenabian membatasi pembahasan pada aspek profetik, sedangkan kajian peristiwa militer dalam narasi lebih banyak menyoroti Barak, Sisera, dan Yael. Belum banyak studi yang mengkaji secara terpadu bagaimana narator Hakim-hakim 4–5 menyusun integrasi tiga fungsi Debora, serta bagaimana integrasi tersebut membentuk legitimasi kepemimpinannya dalam teks. Penelitian ini memakai metode historis-gramatikal dengan analisis naratif terhadap bentuk final teks Hakim-hakim 4–5, didukung analisis leksikal Ibrani serta dialog dengan komentar-komentar standar. Hasil kajian memperlihatkan tiga hal: (1) ketiga fungsi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi melalui panggilan kenabian sebagai pusat legitimasi; (2) legitimasi Debora bersumber pada panggilan ilahi, bukan pada gender, sementara gendernya berperan sebagai instrumen retoris yang mempertegas kritik naratif terhadap kelumpuhan kepemimpinan laki-laki Israel; dan (3) penerimaan Debora di tengah masyarakat patriarkis didukung oleh kekosongan kepemimpinan, otoritas profetik yang teruji, serta teologi YHWH sebagai sumber tunggal otoritas. Implikasi teologisnya jelas: otoritas pelayanan dalam tradisi Israel ditentukan oleh panggilan YHWH, bukan oleh kategori gender, meskipun latar patriarkis tetap menjadi konteks yang perlu dibaca dengan cermat.