Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif gaya kepemimpinan transformasional di sektor birokrasi pemerintahan Indonesia dengan menggunakan studi kasus kepemimpinan Bahlil Lahadalia di tingkat kementerian. Berlandaskan pada materi akademis Session 5: Leadership & Gender, penelitian kualitatif ini mengadopsi metode studi dokumentasi dan literatur guna membedah bagaimana pendekatan manajerial seorang pemimpin laki-laki berinteraksi dengan isu kesetaraan gender, mitigasi marjinalisasi perempuan, serta dekonstruksi paradigma tradisional "think-manager, think-men" di lingkungan birokrasi publik. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun Bahlil Lahadalia menerapkan model kepemimpinan transformasional yang proaktif, berani mengambil risiko, dan berorientasi pada pencapaian target yang cepat, budaya birokrasi yang kaku dan kental akan nuansa patriarki masih menjadi hambatan laten bagi kesetaraan gender. Gaya kepemimpinan yang agresif ini di satu sisi mampu meningkatkan akselerasi kinerja dan inovasi kebijakan, namun di sisi lain berisiko memperkuat stigma maskulinitas kepemimpinan serta memicu ketimpangan tingkat stres kerja (burnout) bagi pegawai perempuan akibat beban ganda sosial-kultural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi kepemimpinan transformasional di kementerian saat ini belum sepenuhnya ideal dalam perspektif gender. Sebagai solusi jangka panjang, penelitian ini merekomendasikan tiga langkah taktis perbaikan struktural, yaitu penerapan sistem blind review pada suksesi jabatan, pelaksanaan gender perspective training secara mandatori, serta destigmatisasi parental leave di lingkungan aparatur sipil negara