Dina Rizki Susanti
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

EFEKTIVITAS BREAST GYMNASTIC, KOMPRES HANGAT, RELAKSASI, DAN MEMERAH PAYUDARA PADA AWAL MELAHIRKAN DI RS. X JAKARTA Dina Rizki Susanti; Sr. Lusia, CB, M.Kep
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 7 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Juli 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i7.2481

Abstract

Masa postpartum merupakan periode transisi yang penting dalam proses laktasi. Pada hari-hari pertama setelah persalinan, banyak ibu postpartum mengalami keterlambatan pengeluaran Air Susu Ibu (ASI) akibat belum optimalnya refleks prolaktin dan oksitosin, sehingga berisiko mengalami bendungan payudara dan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Berbagai intervensi nonfarmakologis seperti breast gymnastic, kompres hangat, relaksasi musik instrumental, dan memerah payudara diketahui mampu meningkatkan stimulasi hormonal, memperlancar sirkulasi darah pada jaringan payudara, meningkatkan kenyamanan ibu, serta mengoptimalkan mekanisme supply and demand dalam produksi ASI. Kombinasi intervensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelancaran produksi dan pengeluaran ASI pada ibu postpartum spontan. Penelitian ini bertujuan untuk enggambarkan dan menganalisis efektivitas penerapan kombinasi breast gymnastic, kompres hangat, relaksasi musik instrumental, dan memerah payudara terhadap kelancaran produksi ASI pada ibu postpartum spontan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus keperawatan maternitas. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling terhadap dua ibu postpartum spontan di Unit Maternitas RS X Jakarta Selatan pada tanggal 18–19 Juni 2026. Responden pertama (Ny. K) mendapatkan intervensi lengkap berupa breast gymnastic, kompres hangat, relaksasi musik instrumental, dan memerah payudara, sedangkan responden kedua (Ny. F) mendapatkan kompres hangat, relaksasi musik instrumental, dan memerah payudara tanpa breast gymnastic. Intervensi diberikan tiga kali sehari selama dua hari. Keberhasilan intervensi dievaluasi berdasarkan volume ASI hasil pemerahan, munculnya let-down reflex, kondisi payudara, frekuensi BAK dan BAB bayi, respons bayi setelah menyusu, serta perubahan berat badan bayi. Hasil pengkajian menunjukkan kedua responden merupakan ibu primipara postpartum hari pertama dengan keluhan pengeluaran ASI belum lancar, payudara bengkak dan tegang, serta let-down reflex yang belum adekuat. Setelah diberikan intervensi selama dua hari, kedua responden mengalami peningkatan produksi dan pengeluaran ASI disertai perbaikan kondisi payudara serta respons bayi setelah menyusu. Pada Ny. K yang mendapatkan intervensi lengkap, volume ASI meningkat dari 1 mL menjadi 3 mL, let-down reflex menjadi optimal dengan ASI memancar, payudara menjadi lebih lunak, dan bayi tampak lebih tenang setelah menyusu. Sementara itu, pada Ny. F yang tidak mendapatkan breast gymnastic, volume ASI meningkat dari 1 mL menjadi 2 mL dengan let-down reflex mulai muncul namun belum optimal serta kondisi payudara masih sedikit tegang. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan breast gymnastic memberikan peningkatan pengeluaran ASI yang lebih baik dibandingkan kombinasi intervensi tanpa breast gymnastic. Penerapan kombinasi breast gymnastic, kompres hangat, relaksasi musik instrumental, dan memerah payudara efektif meningkatkan kelancaran produksi dan pengeluaran ASI pada ibu postpartum spontan. Penambahan breast gymnastic memberikan efek yang lebih optimal terhadap peningkatan volume ASI, stimulasi let-down reflex, penurunan ketegangan payudara, serta kenyamanan ibu selama proses menyusui. Kombinasi intervensi ini dapat dijadikan salah satu bentuk evidence-based nursing practice dalam asuhan keperawatan maternitas untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada masa postpartum awal.