Pertumbuhan konsumsi minyak goreng di wilayah perkotaan, khususnya DKI Jakarta, menghasilkan limbah minyak jelantah dalam jumlah besar yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konversi minyak jelantah menjadi biodiesel serta menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari tahapan transportasi dan proses transesterifikasi. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif melalui pengambilan sampel minyak jelantah dari beberapa wilayah di DKI Jakarta, pengujian laboratorium kualitas biodiesel berdasarkan standar SNI 7182:2015, serta perhitungan emisi menggunakan faktor emisi transportasi dan proses produksi biodiesel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak jelantah memiliki potensi yang baik sebagai bahan baku biodiesel untuk mendukung ketahanan energi lokal dan pengurangan limbah perkotaan. Kondisi optimum proses transesterifikasi diperoleh pada rasio minyak terhadap metanol 6:1, penggunaan katalis KOH 1%, suhu 70 °C, dan kecepatan pengadukan 600 rpm dengan yield biodiesel mencapai 90,42%. Biodiesel yang dihasilkan memenuhi standar mutu SNI 7182:2015 pada parameter utama viskositas, angka setana, kandungan sulfur, dan kestabilan oksidasi. Jumlah total emisi dalam periode tertentu merupakan penjumlahan dari emisi kegiatan pengumpulan berdasarkan jarak rata-rata terjauh dan emisi proses produksi biodiesel berbahan baku minyak jelantah. Estimasi emisi dari produksi biodiesel harian di lima wilayah DKI Jakarta adalah sebesar 30.624,80 kg CO₂ ekuivalen. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak jelantah sebagai biodiesel tidak hanya berpotensi mengurangi limbah dan mendukung energi terbarukan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengelolaan emisi GRK di kawasan perkotaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan integratif antara analisis kualitas biodiesel minyak jelantah dan estimasi emisi GRK berbasis wilayah perkotaan di DKI Jakarta.