Rendahnya minat belajar siswa sekolah dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan persoalan pedagogis yang belum tuntas mendapat penyelesaian sistematis, khususnya di wilayah pedesaan Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penerapan metode ice breaking dan media poster, baik secara parsial maupun simultan, terhadap minat belajar siswa kelas III pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen model Nonequivalent Control Group Design diterapkan pada 23 siswa kelas III UPT SD Negeri 25 Pinrang yang terbagi ke dalam kelas eksperimen (n=12) dan kelas kontrol (n=11). Instrumen pengumpulan data berupa angket minat belajar dengan 20 butir pernyataan berbasis skala Likert empat tingkat yang dikembangkan dari empat indikator utama: perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan aktif. Data dianalisis melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, serta uji-t sampel independen dan berpasangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rata-rata skor minat belajar kelas eksperimen meningkat dari 47,67 menjadi 71,58, jauh melampaui peningkatan kelas kontrol dari 46,91 menjadi 52,82. Ketiga hipotesis penelitian terkonfirmasi secara statistik dengan nilai signifikansi 0,000. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi metode ice breaking dan media poster secara signifikan mampu mentransformasi suasana belajar dari pasif menuju aktif dan bermakna. Implikasi hasil penelitian ini memberikan model intervensi yang sederhana, hemat biaya, dan mudah diterapkan guru untuk memperkuat strategi pembelajaran bahasa di sekolah dasar wilayah terpencil serta mendukung penguatan literasi nasional secara lebih inklusif.