Arsala Lilmuttaqiin
Universitas Negeri Malang, Kota Malang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Budaya “Pencak Dor” dalam Resolusi Konflik Berbasis Kearifan Lokal di Kediri Arsala Lilmuttaqiin; Deny Yudo Wahyudi; Dewa Agung Gede Agung
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.108847

Abstract

Kekerasan komunal dan ketegangan sosial pada tingkat lokal sering kali tidak dapat diselesaikan secara efektf melalui mekanisme formal, sehingga diperlukan pendekatan alternatif yang berakar pada kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis budaya Pencak Dor di Kediri sebagai praktik budaya yang berfungsi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus yang berlokasi di Desa Burengan, Kediri. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, didukung oleh dokumentasi dan kajian pustaka, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi, pengelompokan tematik, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pencak Dor merupakan tradisi bela diri yang berkembang menjadi praktik budaya publik dengan muatan nilai-nilai kearifan lokal, seperti keberanian yang dibatasi etika, pengendalian diri, sportivitas, solidaritas, dan penghormatan terhadap norma komunitas. Nilai-nilai tersebut menjadikan Pencak Dor tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menyediakan media penyelesaian konflik yang terstruktur melalui arena, aturan, pengawasan, dan peran mediator yang memiliki legitimasi sosial. Namun, efektivitas fungsi resolusi konflik tersebut sangat bergantung pada kualitas tata kelola dan kondisi keamanan. Dinamika kontemporer berupa meningkatnya risiko bentrok antarperguruan serta pengetatan perizinan menunjukkan bahwa fungsi damai Pencak Dor dapat melemah apabila kontrol komunitas tidak berjalan optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pencak Dor memiliki potensi sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis budaya lokal, tetapi keberlanjutannya menuntut penguatan tata kelola dan kolaborasi dengan otoritas formal.