Penelitian ini mengkaji transformasi tradisi Hari Rayo Onam di Kampung Godang, Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar. Tradisi ini merupakan praktik budaya masyarakat Melayu yang sarat dengan nilai religius, sosial, dan budaya, namun mengalami perubahan seiring dinamika modernitas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi proses transformasi tradisi serta faktor-faktor yang mendorong perubahan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Penelitian ini melibatkan 8 informan yang dipilih secara purposive, terdiri dari tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, masyarakat lokal, dan generasi muda yang memiliki keterlibatan langsung dalam pelaksanaan tradisi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi terjadi pada bentuk pelaksanaan tradisi, pola partisipasi masyarakat, pengelolaan kegiatan, serta pergeseran makna lintas generasi. Tradisi yang awalnya bersifat sakral dan berbasis keluarga berkembang menjadi perayaan bersama yang lebih terbuka dan inklusif. Faktor utama pendorong transformasi meliputi perkembangan media digital, mobilitas masyarakat perantau, keterlibatan institusi formal, serta meningkatnya kesadaran identitas budaya lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi tradisi tidak selalu menandai kemunduran budaya, melainkan merupakan proses adaptasi kultural yang memungkinkan tradisi mempertahankan nilai inti sekaligus menyesuaikan bentuk praktiknya dengan dinamika masyarakat modern. Temuan ini memperkaya kajian transformasi tradisi dalam studi budaya lokal dengan menunjukkan bagaimana interaksi antara nilai tradisional, modernitas, dan partisipasi lintas generasi berperan dalam mempertahankan keberlanjutan tradisi lokal.