Penelitian ini mengkaji peran komunikasi intrapersonal dalam fenomena pembelian impulsif yang dipicu oleh Fear of Missing Out (FOMO) pada pengguna aktif media sosial. Komunikasi intrapersonal dipahami sebagai dialog internal yang memengaruhi cara individu menilai, merasakan, dan akhirnya memutuskan untuk membeli suatu produk. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana komunikasi intrapersonal memperkuat kecenderungan pembelian impulsif akibat FOMO beserta faktor psikologis dan sosial yang melatarbelakanginya, termasuk implikasinya terhadap kesehatan mental dan keuangan konsumen. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan yang memiliki riwayat pembelian impulsif akibat FOMO, dilengkapi seorang key informan berupa psikolog klinis, serta analisis dokumen berupa konten media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi intrapersonal yang muncul umumnya berupa dialog batin negatif dan berpola urgensi, seperti “kalau enggak beli sekarang nanti menyesal”, yang intensitasnya dipengaruhi oleh tingkat efikasi diri, regulasi emosi, harga diri, dan kematangan konsep diri individu. Dari sudut pandang psikologi klinis, kecenderungan FOMO banyak berakar pada kesepian, harga diri yang rendah, dan pola pengasuhan keluarga yang menempatkan apresiasi pada pencapaian material, yang kemudian diperkuat oleh mekanisme media sosial yang menampilkan standar hidup ideal tanpa memperlihatkan prosesnya. Penelitian ini menemukan dua pola respons, yaitu adaptif yang dapat berkembang menjadi joy of missing out, dan maladaptif yang meningkatkan risiko kecanduan belanja, penggunaan paylater, serta dampak psikologis seperti stres, kecemasan, dan penyesalan pascapembelian. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan komunikasi intrapersonal yang sehat melalui teknik cognitive restructuring, literasi digital, serta dukungan pola asuh keluarga yang hangat sebagai upaya mitigasi dampak negatif FOMO, khususnya bagi generasi muda pengguna aktif media sosial.