Amaturahman Zulfa
Universitas Negeri Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP pada Pembelajaran IPA Berdasarkan Jenis Kelas (Bilingual, Tahfidz, dan Reguler)) Amaturahman Zulfa; Laily Rosdiana
Jurnal Pelita: Jurnal Pembelajaran IPA Terpadu Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/pelita.6.1.2026.1518

Abstract

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran IPA, namun informasi mengenai keterampilan berpikir kritis siswa berdasarkan perbedaan jenis kelas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada pembelajaran IPA berdasarkan jenis kelas, yaitu bilingual, tahfidz, dan reguler. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sampel berjumlah 68 siswa yang dipilih melalui purposive sampling, terdiri atas kelas VII B bilingual, VII C tahfidz, dan VII E reguler di SMP Muhammadiyah 2 Taman Sidoarjo. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda keterampilan berpikir kritis sebanyak 10 butir berdasarkan indikator Ennis dan diadaptasi dari karakteristik soal TIMSS serta PISA. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis yang signifikan antar jenis kelas (p = 0,247) dengan effect size sangat kecil (?² = 0,012). Secara deskriptif, rata-rata tertinggi terdapat pada kelas tahfidz (M = 47,50), diikuti bilingual (M = 38,57) dan reguler (M = 37,92), namun perbedaannya tidak bermakna secara statistik. Secara umum, keterampilan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang hingga rendah, dengan capaian tertinggi pada indikator memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, dan menyimpulkan, serta terendah pada indikator strategi dan taktik. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbedaan program pada masing-masing jenis kelas belum diikuti oleh perbedaan keterampilan berpikir kritis yang nyata, sehingga pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, khususnya pada aspek strategi dan pemecahan masalah, masih perlu mendapat perhatian dalam pembelajaran IPA.