Fenomena gangguan kesehatan kronis non-infeksi masih mendominasi sebagai penyebab kematian utama secara global dan menunjukkan kecenderungan peningkatan di Indonesia. Minimnya kepedulian masyarakat dalam melakukan pemeriksaan sejak fase awal menyebabkan banyak kasus baru terdeteksi ketika kondisi sudah berada pada tingkat lanjut. Beberapa faktor seperti tingkat pemahaman, keberadaan jejaring sosial yang memberi dorongan, serta kekuatan motivasi internal diduga memiliki keterkaitan terhadap perilaku pencegahan yang dilakukan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterhubungan antara tingkat pengetahuan, dukungan sosial, dan motivasi dengan tindakan pemeriksaan dini dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular pada kelompok pengajian Majelis Taklim di wilayah Nagari Koto Tangah tahun 2026. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan potong lintang (cross sectional). Sampel berjumlah 32 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil sebagian besar responden berada pada kategori tinggi dalam aspek pengetahuan, dukungan sosial, motivasi, serta tindakan deteksi dini pencegahan penyakit tidak menular. Namun hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value > 0,05 pada seluruh variabel, sehingga tidak ditemukan hubungan antara pengetahuan dengan tindakan deteksi dini, tidak ditemukan hubungan antara dukungan sosial dengan tindakan deteksi dini, serta tidak ditemukan hubungan antara motivasi dengan tindakan deteksi dini pada kelompok Majelis Taklim Kesimpulan secara umum anggota Majelis Taklim di Nagari Koto Tangah memiliki tingkat pengetahuan, dukungan sosial, dan motivasi yang relatif baik terkait upaya deteksi dini pencegahan penyakit tidak menular, namun tidak terdapat keterkaitan yang signifikan antara ketiga faktor tersebut dengan tindakan yang dilakukan.