Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Halal Traceability Model: An Analysis of the Integration of Blockchain and IoT Technologies Using the CLD Approach Isnaini Maulidatu Nisa’; Muchammad Chafidz Muchlisin; Fahath Haikal Aziz
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Juli
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v5i1.1704

Abstract

System dynamics through CLD are expected to design an optimal implementation strategy for Blockchain and IoT technology in ensuring integrity and consumer confidence in halal products. The method used in this research is a qualitative method. With the Causal Loop Diagram (CLD) approach. Data collection techniques literature review, case studies, and interviews to understand the concept of Halal Traceability. The results showed that the development of a Halal Traceability system requires a comprehensive approach that includes functional, non-functional, technological aspects, as well as regulation and standardization. From the functional aspect, the system provides halal product tracking, data recording and validation, alerting to ensure supply chain security. These functions are interrelated, contributing to increased consumer confidence in halal products. From the non-functional aspect, the reliability of the system is determined by data security, operational efficiency, access transparency, regulatory compliance. This strengthens the foundation of the system so that it can be used optimally and reliably. In the technological aspect, the utilization of blockchain, IoT, smart contracts, and cloud computing is the key to the digital transformation of the halal system. This supports automation and recording, ensuring system efficiency, scalability, and transparency. Finally, in terms of regulation and standardization, the implementation of digital halal certification, compliance with food safety standards (HACCP, ISO 22000), and the Personal Data Protection Law strengthen system integrity and public trust in professional and guaranteed halal products.
Ekosistem Bisnis Kopi Berkelanjutan Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perempuan: Analisis Rantai Nilai Fahath Haikal Aziz; Isnaini Maulidatu Nisa’; Rafi Setya Iqbal Pratama; Lailatun Nur Suyuthi; Rizka Rahmatillah Zidn
Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (Jebma) Vol. 6 No. 3 (2026): Article Research November 2026
Publisher : Yayasan Cita Cendikiawan Al Khwarizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jebma.v6i3.9369

Abstract

Kabupaten Batang memiliki potensi perkebunan kopi seluas 1.020 hektare dalam kawasan perhutanan sosial yang dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perempuan. Namun, sebagian besar nilai tambah kopi belum dinikmati oleh perempuan petani karena rantai nilai yang terlalu panjang, keterbatasan akses teknologi pascapanen, dan minimnya keterhubungan ke pasar premium. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan rantai nilai kopi KUPS Perempuan di Kabupaten Batang dan merumuskan strategi penguatan ekosistem bisnis kopi berkelanjutan berbasis kelembagaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis rantai nilai (value chain analysis). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, survei terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumen yang melibatkan lima desa penghasil kopi yaitu Desa Sodong, Silurah, Tombo, Pesantren, dan Bismo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KUPS Perempuan di Kabupaten Batang memiliki potensi produksi kopi sebesar ±117,9 ton per tahun dari total luasan hutan produksi 393,74 hektare dengan komoditas unggulan kopi robusta, arabika, dan excelsa. Ditemukan kesenjangan distribusi nilai yang signifikan: harga di tingkat petani hanya berkisar Rp 15.000/kg sementara harga konsumen akhir mencapai Rp 180.000/kg, menghasilkan margin 1.100% yang sebagian besar tertangkap oleh aktor hilir. Melalui penguatan kelembagaan koperasi dan kolaborasi sembilan pemangku kepentingan, KUPS Perempuan dapat diposisikan sebagai unit pengolahan inti yang mampu memotong rantai distribusi dan menyerap nilai tambah yang lebih besar di tingkat komunitas. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan ekosistem bisnis kopi berkelanjutan bergantung pada integrasi peran KUPS, koperasi, dan jaringan multi-stakeholder yang terkoordinasi secara kelembagaan.