Peredaran hoaks dan konten radikal di media sosial menjadi tantangan serius bagi masyarakat Muslim Indonesia, sementara model literasi media yang berlandaskan epistemologi Al-Qur'an masih terbatas dan umumnya berhenti pada tataran normatif. Penelitian ini bertujuan mengonstruksi Model Tabayyun Digital sebagai kerangka pembelajaran literasi media berbasis nilai-nilai Qur'ani untuk memperkuat kemampuan peserta didik dalam memverifikasi informasi dan menghadapi hoaks serta radikalisme di ruang digital. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA yang dipadukan dengan analisis konseptual-kritis terhadap lima belas artikel primer yang mewakili empat rumpun kajian, yaitu tafsir tabayyun, literasi digital keagamaan, pedagogi dakwah digital, dan literasi media kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Tabayyun Digital tersusun atas empat tahapan kompetensi yang saling berkaitan, yaitu Talaqqī al-Ma'lūmāt (penerimaan informasi secara kritis), Taḥqīq al-Maṣdar (verifikasi sumber), Taqyīm al-Muḥtawā (evaluasi konten berdasarkan nilai-nilai Islam), dan Nashr al-Ṣidq (penyebaran informasi yang telah terverifikasi). Keempat tahapan tersebut membentuk suatu proses pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis, etika verifikasi informasi, dan tanggung jawab moral dalam aktivitas bermedia digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model pembelajaran yang mengoperasionalkan epistemologi tabayyun Qur'ani ke dalam tahapan kompetensi yang sistematis, sehingga menjembatani kesenjangan antara kajian tafsir normatif, penelitian empiris literasi digital keagamaan, dan teori literasi media kritis. Model ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan teori literasi media Islam sekaligus menawarkan kerangka pedagogis yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan Islam formal, pesantren, maupun pendidikan nonformal untuk memperkuat ketahanan digital masyarakat Muslim.