Alat pertanian tradisional merupakan manifestasi dari kebudayaan material sekaligus wujud kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris di Indonesia. Salah satu alat yang masih eksis hingga saat ini adalah gepyok, sebuah alat perontok padi manual yang bekerja dengan prinsip benturan mekanis sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi alat gepyok dari dua perspektif utama, yaitu dinamika historis-sosial dan evaluasi kesehatan kerja berdasarkan prinsip ergonomi serta antropometri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang diintegrasikan dengan observasi lapangan terhadap aktivitas pascapanen petani kecil di pedesaan. Hasil kajian historis menunjukkan bahwa gepyok mengalami persistensi kultural yang kuat dari masa kolonial hingga era pasca-Revolusi Hijau karena faktor ekonomi skala kecil dan keterbatasan modal petani untuk mengakses mesin perontok modern (power thresher). Namun, dari sudut pandang ergonomi dan biomekanika, aktivitas "menggepyok" padi yang dilakukan secara berulang dalam durasi lama memicu postur kerja janggal (awkward posture) seperti membungkuk ekstrem dan ekstensi lengan yang berlebih. Kondisi fungsional ini berkorelasi signifikan terhadap tingginya prevalensi keluhan fiksi berupa gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) pada area punggung bawah (low back pain), lengan, dan bahu. Traditional agricultural tools represent both a form of material culture and a manifestation of local wisdom that has developed within Indonesia's agrarian communities. One tool that continues to exist today is the gepyok, a manual rice threshing device that operates using a simple mechanical impact principle. This study aims to analyze the existence of the gepyok from two main perspectives: historical-social dynamics and occupational health evaluation based on ergonomic and anthropometric principles. The research employed a descriptive qualitative method with a literature review approach integrated with field observations of post-harvest activities among small-scale farmers in rural areas. The findings indicate that the gepyok has demonstrated strong cultural persistence from the colonial period through the post-Green Revolution era, primarily due to the economic conditions of smallholder farmers and their limited financial capacity to access modern threshing machines (power threshers). However, from an ergonomic and biomechanical perspective, the repetitive activity of manually threshing rice using the gepyok over extended periods results in awkward working postures, including excessive trunk flexion and overextended arm movements. These functional conditions are strongly associated with a high prevalence of musculoskeletal disorders (MSDs), particularly affecting the lower back (low back pain), shoulders, and upper limbs.