Upaya Indonesia mencapai target bauran EBT terkendala pada stabilitas pasokan bahan baku. Pengembangan budidaya tanaman energi sebagai sumber pasokan bahan baku biomassa yang terbarukan, dapat dijadikan sebagai solusi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk budidaya, menganalisis potensi volume biomassa dari budidaya, dan menganalisis kelayakan ekonomi produksi bioenergi yaitu biopellet. Analisis kesesuaian lahan dilaksanakan melalui overlay spasial parameter kemiringan lereng, jenis tanah, dan curah hujan menggunakan Indeks Kesesuaian Lahan. Estimasi potensi biomassa dihitung dengan model alometrik, sementara kelayakan usaha dianalisis berdasarkan indikator finansial. Hasil analisis menunjukkan bahwa 84,9 persen area KHDTK Wanadipa diklasifikasikan sebagai Hutan Produksi Tetap sehingga layak untuk pengembangan budidaya. Kaliandra memiliki potensi produksi biomassa lebih tinggi dibanding Gamal, dengan produktivitas mencapai 32 ton/ha/tahun akibat frekuensi panen yang lebih intensif, sedangkan Gamal hanya sekitar 27 ton/ha/tahun. Perbedaan produktivitas tersebut berkontribusi pada peningkatan kelayakan ekonomi, di mana nilai IRR usaha biopellet kaliandra meningkat lebih tinggi (21%) dibandingkan usaha biopellet gamal (18%). Skenario integrasi budidaya Kaliandra, produksi biopellet, dan budidaya madu kelulut menghasilkan kinerja finansial paling unggul dengan laba bersih tertinggi, IRR 24%, NPV positif dan PBP 3,98 tahun. Optimalisasi produktivitas tanaman dan diversifikasi pendapatan melalui multiusaha kehutanan mampu memperkuat profitabilitas dan meningkatkan kelayakan investasi bioenergi.