Wanda Pamungkas
Program Studi Permesinan Perikanan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KOMPREHENSIF PERUBAHAN VISKOSITAS DAN DEGRADASI KIMIAWI MINYAK PELUMAS MESIN DIESEL GENERATOR BERDASARKAN DURASI JAM OPERASIONAL PADA KM. TRANS MITRAMAS 5 BITUNG Doly Andrian Harahap; Ade Hermawan; Wanda Pamungkas
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pelumasan pada mesin generator kapal merupakan komponen vital penunjang kelancaran operasional penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik degradasi fisis dan kimiawi minyak pelumas multigrade Shell Rimula R4 X 15W-40 pada Mesin Diesel Generator Yanmar M200 AL-ST di KM. Trans Mitramas 5, PPS Bitung. Pengambilan sampel pelumas dilakukan secara berkala pada interval 0 jam (oli baru), 500 jam, 1000 jam, dan 1500 jam kerja mesin, dilanjutkan dengan pengujian laboratorium menggunakan instrumen ASTM standar meliputi viskositas kinematik, Total Base Number (TBN), analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk jelaga, serta Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) untuk deteksi logam aus. Hasil analisis menunjukkan fluktuasi viskositas kinematik 100°C dari nilai awal 15,85 cSt menjadi 13,94 cSt (500 jam) akibat shear thinning mekanis, kemudian meningkat menjadi 15,11 cSt (1500 jam) seiring melonjaknya densitas jelaga sisa pembakaran karbon hingga 1,60 Abs/01mm (Status Urgent). TBN mengalami depresiasi dari 10,67 mg KOH/g ke level 8,94 mg KOH/g, mencerminkan kejenuhan aditif alkali dalam menetralkan asam. Konsentrasi logam aus Besi (Fe) meningkat ekstrem hingga 149 ppm pada 1500 jam yang mengindikasikan keausan liner silinder dan roda gigi. Disimpulkan bahwa batas kritis penggunaan pelumas tercapai antara 1000 hingga 1500 jam. Direkomendasikan pemangkasan interval penggantian oli menyeluruh maksimal pada 1000 jam operasional kapal demi mengantisipasi kerusakan katastropik permesinan.