Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dinamika Metodologi Tafsir Al-Qur’an Indonesia: Konfigurasi Tahlili, Tematik, Dan Hermeneutik Muhammad Salman Alfaruqi
Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol. 2 No. 02 (2026): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian metodologi tafsir Indonesia kerap menempatkan tahlili, tematik, dan hermeneutik sebagai tiga metode yang sejajar, padahal ketiganya bekerja pada tingkat metodologis yang tidak sepenuhnya sama. Artikel ini bertujuan menjelaskan posisi epistemologis ketiga pendekatan tersebut, menelaah penerapannya dalam karya tafsir berbahasa Indonesia, dan merumuskan pola konvergensi yang dapat menjaga otoritas teks sekaligus relevansi konteks. Penelitian menggunakan studi kepustakaan kualitatif dengan analisis isi komparatif-kritis. Sumber primer meliputi Tafsir al-Azhar karya Hamka, Tafsir al-Mishbah dan Wawasan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab, serta Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an karya Nasaruddin Umar. Literatur metodologi tafsir terbitan 2021–2025 digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahlili dan tematik terutama berfungsi sebagai metode pengorganisasian bahan tafsir, sedangkan hermeneutik bekerja sebagai horizon penalaran yang menghubungkan teks, konteks pewahyuan, dan situasi pembaca. Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Mishbah mempertahankan susunan tahlili, tetapi telah memuat orientasi tematik dan sensitivitas kontekstual. Wawasan Al-Qur’an dan karya Nasaruddin Umar memperlihatkan bahwa sintesis tematik menjadi lebih produktif ketika dikendalikan oleh analisis bahasa, sejarah, munasabah, dan tujuan moral Al-Qur’an. Temuan utama artikel ini adalah model konvergensi berlapis: pengendalian tekstual melalui perangkat tahlili, sintesis persoalan melalui metode tematik, dan aktualisasi makna melalui penalaran hermeneutik. Model tersebut menghindarkan tafsir dari fragmentasi, seleksi ayat yang bias, dan relativisme makna.