Bahrul Anam
Prodi Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Kejawen sebagai Sinkretisme Keyakinan Masyarakat Jawa Banyumasan dalam Novel-Novel Ahmad Tohari Hary Sulistyo; Ahmad Mustolih; Widya Putri Ryolita; Dimas Indianto S.; Bahrul Anam
Narasi: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 4 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/narasi.v4i1.8491

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai representasi kejawen sebagai sinkretisme Islam dengan keyakinan lokal dalam novel-novel karya Ahmad Tohari dengan perspektif unsur-unsur kebudayaan Koentjaraningrat. Sebagai karya sastra yang merepresentasikan budaya Banyumasan, terepresentasi aspek-aspek spiritualitas tak terkecuali mistisme, yang merupakan akulturasi spiritualitas dan realitas dalam hidup. Tujuan penulisan ini adalah: 1. Menjabarkan bentuk-bentuk Kejawen di dalam novel-novel Ahmad Tohari sebagai bentuk tanda dalam perspektif unsur-unsur kebudayaan Koentjaraningrat; 2. Menjabarkan makna kultural masyarakat Banyumasan mengenai representasi Kejawen di dalam novel-novel tersebut. Teori dalam penelitian ini adalah unsur-unsur kebudayaan Koentjaraningrat, yang meliputi tahapan ide, tingkah laku, dan benda hasil kebudayaan.  Metode penelitian ini adalah kualitatif, dengan langkah-langkah: 1. Pembacaan terhadap novel-novel Ahmad Tohari sebagai populasi penelitian; 2. Pemilihan terhadap novel-novel yang mengandung unsur kejawen sebagai sampel penelitian; dan 3. Melakukan analisis terhadap   representasi   kejawen   di   dalam   novel-novel   tersebut   dengan   teori   unsur-unsur kebudayaan Koentjaraningrat.  Hasil penelitian menunjukkan:  1.  Berdasarkan karya-karya Ahmad Tohari, novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Di Kaki Bukit Cibalak memiliki representasi yang kuat mengenai Kejawen sebagai ciri masyarakat Banyumasan; 2. Representasi Kejawen dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk pada peristiwa peresmian Srintil menjadi ronggeng, yaitu saat pentas di makam keramat. Representasi kejawen dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, tercermin pada peristiwa Bu Lurah yang mendatangi dukun sakti, agar suaminya gagal dalam  pernikahannya  dengan  istri  muda;  3.  Representasi  kejawen  dalam  karya-karya  Ahmad Tohari menunjukkan secara kultural, masyarakat Banyumasan, memiliki pola pikir dialektis antara realitas dan mistisme, sekaligus   memegang teguh  tradisi   kultural,   dengan   salah   satunya   tetap menghormati leluhur sebagai nilai dan identitas.