Vito Yulianto Yulianto
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Palangka Raya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Running Culture Sebagai Arena Distingsi: Produksi Identitas Dan Modal Simbolik Dalam Gaya Hidup Urban Di Kota Palangka Raya Yandra Yandra; Vito Yulianto Yulianto; Pedrie Pedrie; Matius Rahel
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2026
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v6i1.9143

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena Running Culture di Kota Palangka Raya sebagai praktik sosial yang tidak hanya berkaitan dengan aktivitas olahraga, tetapi juga dengan pembentukan identitas, distingsi sosial, dan akumulasi modal simbolik dalam masyarakat urban. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis). Informan penelitian terdiri atas delapan pelari aktif yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka dalam aktivitas lari, komunitas, dan berbagai event lari. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan analisis konten media sosial. Analisis dilakukan menggunakan teori praktik sosial Pierre Bourdieu yang menekankan hubungan antara habitus, modal, dan arena sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas lari telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup urban yang membentuk habitus berupa nilai kesehatan, kedisiplinan, dan pengembangan diri. Selain itu, Running Culture menjadi arena distingsi sosial melalui penggunaan atribut olahraga, partisipasi dalam event, dan keterlibatan dalam komunitas. Aktivitas lari juga berperan dalam pembentukan identitas serta menghasilkan modal simbolik berupa pengakuan, prestise, dan legitimasi sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa Running Culture merefleksikan dinamika gaya hidup dan relasi sosial masyarakat urban kontemporer. This study aims to analyze the phenomenon of Running Culture in Palangka Raya City as a social practice associated not only with physical exercise but also with identity formation, social distinction, and the accumulation of symbolic capital in urban society. The research employed a qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Eight active runners were purposively selected based on their involvement in running activities, communities, and running events. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, documentation, and social media content analysis. The analysis was guided by Pierre Bourdieu’s theory of practice social, which emphasizes the relationship between habitus, capital, and social fields. The findings reveal that running has evolved into an urban lifestyle that shapes a habitus characterized by health, discipline, and self-development. Furthermore, Running Culture serves as a field of social distinction reflected in the use of sports attributes, participation in running events, and involvement in running communities. Running also contributes to identity construction and generates symbolic capital in the form of recognition, prestige, and social legitimacy. This study demonstrates that Running Culture reflects the dynamics of lifestyle and social relations in contemporary urban society.