Antik Tri Susanti
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Praktik Adaptasi Nelayan Dalam Kesenjangan Digital Di Desa Tetehosi I, Nias Erika Enjellina Hia; Rizki Amalia Yanuartha; Antik Tri Susanti
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2026
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v6i1.9257

Abstract

Penelitian ini mengkaji praktik adaptasi nelayan dalam menghadapi kesenjangan digital di Desa Tetehosi I, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk kesenjangan digital yang dialami nelayan serta strategi yang mereka lakukan dalam memasarkan hasil tangkapan ikan di tengah keterbatasan akses teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap 12 informan yang terdiri dari nelayan, pedagang ikan, pengepul, konsumen, dan aparat desa. Analisis menggunakan perspektif digital divide Van Dijk serta konsep modal, habitus, dan arena Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Desa Tetehosi I menghadapi kesenjangan digital terutama pada aspek akses infrastruktur dan pemanfaatan teknologi secara produktif. Keterbatasan jaringan internet menyebabkan penggunaan media digital belum berkembang secara optimal. Akan tetapi, sebagian besar nelayan telah memiliki telepon pintar dan mampu menggunakan aplikasi seperti WhatsApp dan Facebook. Teknologi tersebut lebih banyak digunakan untuk komunikasi sehari-hari daripada pemasaran ikan karena hasil tangkapan umumnya telah terserap melalui jaringan pembeli dan pengepul yang telah terbentuk. Dalam kondisi tersebut, nelayan mengembangkan strategi adaptasi melalui penjualan langsung di pantai, pemanfaatan media digital secara terbatas melalui status WhatsApp dan komunikasi telepon, serta penggunaan cool box untuk menjaga kualitas hasil tangkapan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kuatnya modal sosial dan habitus pemasaran tradisional menjadi faktor penting yang membuat praktik pemasaran lokal tetap dipertahankan meskipun peluang digitalisasi tersedia. Oleh karena itu, kesenjangan digital pada masyarakat nelayan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial dan praktik ekonomi yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. This study examines how fishers adapt to the challenges of the digital divide in Tetehosi I Village, Idanogawo District, Nias Regency. It focuses on the forms of digital inequality experienced by local fishers and the strategies they employ to market their catch despite limited access to digital technology. A descriptive qualitative approach was adopted, with data collected through in-depth interviews, field observations, and documentation involving twelve informants, including fishers, fish traders, middlemen, consumers, and village officials. The analysis draws on Van Dijk’s digital divide framework and Pierre Bourdieu’s concepts of capital, habitus, and field. The findings reveal that the digital divide among fishers is primarily reflected in limited digital infrastructure and the underutilization of technology for productive economic activities. Poor internet connectivity remains a major obstacle to the broader use of digital media. Nevertheless, most fishers already own smartphones and are familiar with applications such as WhatsApp and Facebook. These platforms are used mainly for everyday communication rather than fish marketing, as the majority of catches are already distributed through long-established networks of buyers and middlemen. In response to these conditions, fishers have developed various adaptive strategies, including direct sales at the beach, limited use of digital media through WhatsApp status updates and phone communication, and the use of cool boxes to preserve the quality of their catch. The study further demonstrates that strong social capital and a deeply embedded traditional marketing habitus continue to shape local marketing practices, even as opportunities for digitalization become increasingly available. These findings suggest that the digital divide within fishing communities cannot be understood solely as a matter of technological access, but must also be viewed in relation to the social structures and economic practices that have long been embedded in everyday life.