Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DARI FILANTROPI KE ARSITEKTUR NILAI: INTEGRASI EMBEDDED ESG DALAM EKOSISTEM PEMBIAYAAN INKLUSIF PUSAT INVESTASI PEMERINTAH SEBAGAI INSTRUMEN KETAHANAN PANGAN ASTA CITA Ismed Saputra; Mohamad Rizan; Muhammad Awaluddin
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 5 No. 11 (2026): Juli 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the paradigmatic transformation of the Government Investment Center (PIP) from a conventional ultra-micro financing institution to one that organically integrates Environmental, Social, and Governance (ESG) principles into its core business processes. Unlike conventional CSR approaches that remain peripheral to business operations, Embedded ESG positions sustainability as an endogenous variable inseparable from capital allocation decisions and institutional design. Leveraging the regulatory expansion under PMK No. 130/2024, PIP now reaches Non-Financial Services Institutions (Non-LJK) including commodity aggregators, agribusiness off-takers, and digital agricultural platforms opening financing access for agricultural, plantation, and livestock communities suffering from financial exclusion due to market failure (Stiglitz & Weiss, 1981), while building a closed-loop ecosystem with effective interest rates below 4% per annum. The article analyzes the PT ALKO Sumatera Kopi case as a prototype Non-LJK ecosystem and formulates The Embedded ESG – Inclusive Micro Financing Framework (EE-IMFF), arguing that ESG is not a compliance burden but a genuine value creation engine for Indonesia's Asta Cita food security agenda.
DARI PROYEK HIJAU MENUJU TRANSFORMASI SISTEMIK: KEPEMIMPINAN REGENERATIF SEBAGAI FONDASI INOVASI BERKELANJUTAN DALAM INDUSTRI PENERBANGAN INDONESIA (Studi Kasus: PT Batik Air Indonesia (Lion Air Group) Emilia Hasanah; Mohamad Rizan; Muhammad Awaluddin
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 5 No. 11 (2026): Juli 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis iklim global dan meningkatnya tuntutan investor, regulator, serta konsumen terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab telah mendorong pergeseran paradigma keberlanjutan dari sekadar inisiatif kepatuhan lingkungan (proyek hijau) menuju transformasi sistemik yang terintegrasi dalam model bisnis. Industri penerbangan merupakan salah satu sektor yang menghadapi tekanan tersebut secara akut karena karakteristik operasionalnya yang padat energi dan padat modal. Makalah ini bertujuan menganalisis sejauh mana PT Batik Air Indonesia, sebagai bagian dari Lion Air Group yang menguasai lebih dari separuh pangsa pasar penerbangan domestik Indonesia, telah bertransformasi dari pendekatan proyek hijau yang parsial menuju inovasi berkelanjutan yang sistemik. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif berbasis data sekunder serta kerangka teoretis kepemimpinan regeneratif (regenerative leadership), makalah ini merumuskan model konseptual Regenerative Aviation Leadership Framework (RALF) yang mengintegrasikan kesadaran sistemik, kolaborasi multi-pemangku kepentingan, indikator keberlanjutan terukur, dan orientasi regeneratif melampaui net-zero. Temuan menunjukkan bahwa komitmen Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada tahun 2030 dan modernisasi armada Batik Air/Lion Air Group masih berada pada tahap proyek hijau yang bersifat inkremental, belum menjadi transformasi sistemik yang melibatkan seluruh rantai nilai dan didukung oleh gaya kepemimpinan regeneratif. Makalah ini merekomendasikan reorientasi strategi keberlanjutan dan pengembangan literasi sistem dalam kepemimpinan perusahaan, khususnya menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) Lion Air Group.