Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENENTUAN PRIORITAS STRATEGI PENGENDALIAN DAUN KERITING PADA BUDIDAYA CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS L.) SISTEM TUMPANGSARI DENGAN KACANG TANAH MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Afifah Nur'aeni; Ida Marina; Paradise Zahratussita Elmakdumi
Journal of Sustainable Agribusiness Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jsa.v5i1.18833

Abstract

Epidemi penyakit daun keriting akibat serangga vektor menjadi kendala utama budidaya cabai rawit (Capsicum frutescens L.) karena menurunkan produktivitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kriteria prioritas pengendalian penyakit daun keriting menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), menentukan alternatif strategi terbaik, serta menguji kelayakan ekonomi sistem tumpangsari cabai rawit domba dan kacang tanah di Blok Cikalong, Kabupaten Majalengka. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif ini mengombinasikan pendekatan AHP dengan analisis finansial usahatani R/C Ratio pada lahan eksperimen seluas 47m². Kriteria yang diuji meliputi tingkat serangan hama penyakit, produktivitas, keberlanjutan tumpangsari, dan efisiensi biaya, dengan alternatif strategi: tumpangsari, pestisida nabati, dan mekanik. Hasil Analisis AHP menunjukkan tingkat serangan hama dan penyakit (K1) merupakan kriteria prioritas utama dengan bobot 0,35, diikuti produktivitas (K2 = 0,30), keberlanjutan tumpangsari (K3 = 0,20), dan efisiensi biaya (K4 = 0,15) dengan nilai Consistency Ratio (CR) konsisten sebesar 0,04. Optimalisasi sistem tumpangsari (A_1) terpilih sebagai strategi terbaik dengan bobot global 0,42 karena efektivitas kacang tanah sebagai pembatas fisik vegetatif. Implementasi strategi tumpangsari membutuhkan biaya produksi Rp358.500,- dan menghasilkan keuntungan bersih Rp241.500,-. Nilai \text{R/C Ratio} sebesar 1,67 > 1,00 menunjukkan usahatani ini sangat layak dijalankan dan mampu berfungsi sebagai sabuk pengaman ekonomi (economic safety net) melalui diversifikasi hasil tanaman meskipun terdapat 8 dari 30 tanaman yang bergejala daun keriting.
ANALISIS OPERASIONAL AGRIBISNIS BUDUDAYA CABAI DOMBA (CAPSICUM FRUTESCENS L.) DENGAN SISTEM TUMPANG SARI KACANG TANAH (ARACHIS HYPOGAEA L.): STUDI KASUS DENGAN IDENTIFIKASI DAN PENANGANAN PERMASALAHAN LAPANGAN Gisca Razwa Septianur; Ida Marina; Paradise Zahratussita Elmakdumi
Journal of Sustainable Agribusiness Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jsa.v5i1.18850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi budidaya cabai domba (Capsicum frutescens L.) dengan sistem tumpang sari kacang tanah (Arachis hypogaea L.), serta menemukan masalah dan upaya untuk menanganinya. Penelitian ini dilakukan di lahan pertanian di Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengamati kondisi tanaman, tanah, dan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem tumpang sari cabai domba dan kacang tanah dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan memberikan keuntungan ekonomi dan agronomis. Namun, selama masa pertumbuhan vegetatif terjadi beberapa kendala utama. Ini termasuk pemadatan tanah yang disebabkan oleh aktivitas pemeliharaan; serangan kutu kebul (Bemisia tabaci), yang menyebabkan gejala keriting dan menguning pada daun; serangan kutu putih; dan serangan ulat pemakan daun (Spodoptera litura). pemanfaatan lahan dan memberikan keuntungan ekonomi dan agronomis. Namun, selama masa pertumbuhan vegetatif terjadi beberapa kendala utama. Ini termasuk pemadatan tanah yang disebabkan oleh aktivitas pemeliharaan; serangan kutu kebul (Bemisia tabaci), yang menyebabkan gejala keriting dan menguning pada daun; serangan kutu putih; dan serangan ulat pemakan daun (Spodoptera litura). Pengemburan tanah, sanitasi lahan, penyulaman, pengendalian hama secara mekanis dan kimiawi, dan pemantauan rutin adalah beberapa metode penanganan. Agar budidaya berhasil, pengelolaan yang berkelanjutan dan penerapan pengendalian terpadu diperlukan.