Susy Olivia Lontoh
Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemeriksaan Hemoglobin untuk Deteksi Dini Anemia pada Populasi Dewasa dalam Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Kelurahan Semanan Susy Olivia Lontoh; Alexander Halim Santoso
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): September
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i3.803

Abstract

Pemeriksaan kadar hemoglobin merupakan salah satu metode sederhana dan penting dalam mendeteksi anemia secara dini di masyarakat. Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi karena dapat menurunkan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah sehingga berdampak terhadap kesehatan, produktivitas, daya tahan tubuh, serta kualitas hidup individu. Kondisi ini sering berkembang secara perlahan dan tidak selalu menimbulkan gejala khas pada tahap awal sehingga banyak kasus tidak terdeteksi. Oleh karena itu, pemeriksaan hemoglobin secara berkala diperlukan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan menggambarkan distribusi kadar hemoglobin pada masyarakat serta mengidentifikasi status anemia berdasarkan nilai ambang hemoglobin sesuai standar klinis. Evaluasi dilakukan menggunakan analisis deskriptif terhadap hasil pemeriksaan hemoglobin dan pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan masyarakat. Sebanyak 155 responden mengikuti pemeriksaan dengan rerata usia 46,49 ± 10,29 tahun dan rentang usia 19–80 tahun. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 109 orang (70,3%), sedangkan laki-laki sebanyak 46 orang (29,7%). Hasil pemeriksaan menunjukkan rerata kadar hemoglobin sebesar 11,05 ± 1,91 g/dL dengan rentang nilai 6,1–15,6 g/dL. Sebagian besar responden berada dalam kategori anemia sebanyak 118 orang (76,1%), sedangkan responden dengan kadar hemoglobin normal sebanyak 37 orang (23,9%). Hasil ini menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi pada masyarakat yang diperiksa. Pemeriksaan hemoglobin dapat menjadi metode skrining yang sederhana, efektif, dan mudah dilakukan untuk membantu deteksi dini anemia sehingga intervensi seperti edukasi gizi, perbaikan pola makan, dan suplementasi zat besi dapat dilakukan lebih awal guna mencegah komplikasi lebih lanjut.
CKG Goes to Campus: Skrining Gula Darah Puasa sebagai Upaya Deteksi Dini Diabetes Melitus pada Civitas Akademika Universitas Tarumanagara Susy Olivia Lontoh; Alexander Halim Santoso; Fiona Valencia Setiawan
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): September
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i3.852

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan sering kali tidak terdiagnosis pada tahap awal karena berlangsung tanpa gejala yang khas. Deteksi dini melalui pemeriksaan gula darah puasa berperan penting dalam mengidentifikasi gangguan regulasi glukosa sebelum berkembang menjadi komplikasi kronis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melaksanakan skrining gula darah puasa pada civitas akademika Universitas Tarumanagara melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Goes to Campus sebagai upaya deteksi dini diabetes melitus. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang meliputi tahap perencanaan, pemeriksaan gula darah puasa menggunakan metode point-of-care testing (POCT), evaluasi hasil pemeriksaan, serta tindak lanjut bagi peserta dengan hasil di luar nilai rujukan. Sebanyak 606 peserta mengikuti kegiatan skrining dengan rerata usia 29,55 ± 14,43 tahun. Rerata kadar gula darah puasa peserta adalah 97,98 ± 27,21 mg/dL. Sebagian besar peserta memiliki kadar gula darah puasa normal (72,1%), sedangkan 19,6% termasuk kategori prediabetes dan 8,3% mengarah pada diabetes melitus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lebih dari seperempat peserta telah mengalami gangguan regulasi glukosa meskipun sebagian besar berada pada usia produktif. Pelaksanaan skrining berbasis kampus terbukti efektif dalam mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami diabetes melitus serta memperluas akses terhadap deteksi dini gangguan metabolisme glukosa. Program ini juga menghasilkan data epidemiologi awal yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan program kesehatan kampus berbasis promotif dan preventif serta mendorong tindak lanjut pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan bagi peserta dengan hasil abnormal.