Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi terhadap perilaku korupsi dalam lingkungan birokrasi, khususnya di instansi pemerintah. Korupsi merupakan fenomena kompleks yang tidak hanya dipengaruhi oleh regulasi dan pengawasan, tetapi juga oleh nilai-nilai, norma, dan praktik budaya kerja yang berlaku dalam organisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi pada sejumlah pegawai di berbagai unit kerja. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola hubungan antara budaya organisasi dan perilaku koruptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan integritas cenderung menekan praktik korupsi, sedangkan budaya yang permisif terhadap pelanggaran aturan, hierarki kaku, dan kurangnya pengawasan meningkatkan risiko perilaku koruptif. Selain itu, etika kerja individu yang rendah dan norma sosial yang menganggap korupsi sebagai hal lumrah turut memperkuat praktik korupsi di birokrasi. Temuan ini menegaskan pentingnya pembentukan budaya organisasi yang mendukung nilai-nilai etis dan profesionalisme untuk mencegah korupsi. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pembuat kebijakan dan pimpinan instansi pemerintah dalam merancang strategi budaya kerja yang efektif, termasuk penguatan pelatihan etika, sistem reward dan punishment yang adil, serta peningkatan transparansi dan partisipasi pegawai dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, penguatan budaya organisasi dapat menjadi instrumen penting dalam upaya pengendalian korupsi di lingkungan birokrasi