Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara keterampilan pijat dengan peningkatan ekonomi tunanetra di Bandar Lampung. Fenomena pijat buta telah menjadi salah satu pilihan mata pencaharian utama bagi penyandang tunanetra, tetapi belum ada studi mendalam tentang bagaimana keterampilan ini berkontribusi pada peningkatan ekonomi mereka dalam konteks Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan 15 informan yang terdiri dari praktisi pijat tunanetra (12 orang), pengurus asosiasi pijat tunanetra (2 orang), pelatih keterampilan pijat (1 orang). Observasi partisipatif dilakukan di lima lokasi praktik pijat buta yang tersebar di seluruh wilayah Bandar Lampung untuk memahami proses pemberian layanan dan berinteraksi dengan pelanggan. Studi dokumentasi meliputi catatan pendapatan, sertifikat pelatihan, dan dokumen terkait lainnya. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan pengurangan data, penyajian data, dan kesimpulan yang ditarik. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan pijat memiliki peran signifikan dalam meningkatkan perekonomian tunanetra di Bandar Lampung, yang tercermin dalam tiga temuan utama. Pertama, penguasaan berbagai teknik pijat (tradisional, pijat refleksi, dan terapi) berkorelasi positif dengan peningkatan jumlah pelanggan dan tarif layanan. Kedua, pengembangan keterampilan melalui pelatihan berkelanjutan membuka peluang untuk diversifikasi layanan dan perluasan pasar. Ketiga, faktor pendukung keberhasilan meliputi lokasi strategis, jejaring masyarakat, dan dukungan kebijakan pemerintah kota, sedangkan tantangan utama meliputi keterbatasan modal, persaingan usaha, dan stigma sosial. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya penguatan program pelatihan keterampilan standar, mendirikan pusat pijat untuk tunanetra, dan mengembangkan sistem sertifikasi kompetensi. Implikasi praktisnya termasuk perlunya dukungan kebijakan yang lebih terarah dari pemerintah kota dan penguatan jaringan sosial-ekonomi masyarakat tunanetra di Bandar Lampung.