Sartini Risky
Magister Kesehata masyarakat, Universitas Mandala Waluya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penerimaan Dan Penggunaan Teknologi Kesehatan (Technology Acceptance Model / Tam) (Systematic Review) Ilda Riski Ismail; Sidarsyah; Sartini Risky
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1152

Abstract

Transformasi digital dalam sektor kesehatan memerlukan pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna agar implementasi teknologi dapat berjalan efektif. Technology Acceptance Model (TAM) merupakan kerangka kerja yang paling luas digunakan untuk menganalisis perilaku adopsi ini melalui variabel kegunaan dan kemudahan penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis literatur mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan penggunaan teknologi kesehatan, mulai dari sistem informasi rumah sakit (SIMRS) hingga aplikasi kesehatan mobile (mHealth), dengan menggunakan kerangka kerja TAM. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap 25 artikel ilmiah dan laporan resmi (periode 2020–2025) yang mencakup studi di tingkat nasional (Indonesia) maupun global. Data dianalisis secara tematik berdasarkan variabel-variabel TAM dan hasil temuan utama dari setiap studi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa Perceived Usefulness (PU) merupakan prediktor paling dominan dalam menentukan niat penggunaan teknologi kesehatan, terutama pada sistem SIMRS dan telehealth. Perceived Ease of Use (PEOU) dan faktor Trust (kepercayaan) menjadi variabel pendukung yang signifikan pada teknologi berbasis mobile dan farmasi digital. Faktor eksternal seperti pelatihan pengguna terbukti meningkatkan adopsi, sementara resistensi pengguna masih menjadi hambatan utama dalam implementasi Rekam Medis Elektronik (RME). Secara global, meskipun teknologi kesehatan meningkatkan efisiensi dan outcome klinis, ketimpangan akses (equity) masih menjadi tantangan besar dalam distribusi teknologi di berbagai wilayah. Penerimaan teknologi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis kemudahan sistem, tetapi sangat bergantung pada persepsi pengguna terhadap manfaat nyata dan tingkat kepercayaan pada sistem. Diperlukan strategi yang komprehensif, termasuk pelatihan berkelanjutan dan kebijakan pemerataan akses, untuk memastikan keberhasilan transformasi digital kesehatan.