Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat dan berkontribusi besar terhadap kejadian penyakit kardiovaskular. Selain terapi farmakologis, terapi nonfarmakologis seperti pemanfaatan rebusan daun alpukat mulai dikenal sebagai terapi komplementer karena mengandung senyawa flavonoid, saponin, dan alkaloid yang berpotensi menurunkan tekanan darah. Namun, pemanfaatannya masih dipengaruhi oleh persepsi yang beragam dari penderita hipertensi. Persepsi tersebut dipengaruhi oleh berbagai karakteristik individu. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita hipertensi dengan persepsi tentang manfaat rebusan daun alpukat di Desa Gedung Cahya, Kuningan, Kecamatan Ngambur, Kabupaten Pesisir Barat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penderita hipertensi di Desa Gedung Cahya Kuningan sebanyak 93 orang, jumlah sampel 93 dengan teknik total sampling. Analisis dan bivariat menggunakan uji Chi-Square (χ²). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (62,4%), berada pada usia produktif (69,9%), berpendidikan tinggi (75,3%), memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga (60,2%), dan memiliki persepsi yang baik tentang manfaat rebusan daun alpukat (51,6%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan jenis kelamin (p = 0,005), usia (p = 0,021), tingkat pendidikan (p = 0,000), serta riwayat hipertensi keluarga (p = 0,000) dengan persepsi tentang manfaat rebusan daun alpukat. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara karakteristik penderita hipertensi dan persepsi tentang manfaat rebusan daun alpukat. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan karakteristik individu untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan terapi komplementer secara tepat.