Pneumonia merupakan infeksi akut atau peradangan pada parenkim atau jaringan paru yang menyebabkan sesak napas. Pneumonia merupakan penyakit yang menyebabkan kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik empiris terhadap luaran klinis pada anak dengan pneumonia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Data retrospektif diperoleh dari rekam medis pasien di RSUD X Sorong periode 1 Januari–31 Desember 2023. Subjek penelitian adalah seluruh pasien yang menderita pneumonia dan mendapatkan antibiotik empiris. Evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik dilakukan menggunakan metode Gyssens. Luaran klinis yang diamati adalah kondisi pasien membaik atau tidak membaik berdasarkan parameter perbaikan klinis yang ditunjukkan oleh tanda-tanda vital pasien dan perbaikan gejala dalam waktu 3–5 hari setelah pemberian antibiotik. Sebanyak 100 pasien memenuhi kriteria inklusi penelitian. Pasien dalam penelitian ini sebagian besar berusia <5 tahun (82%) dan berjenis kelamin laki-laki (58%). Sebanyak 37 pasien (72%) menerima antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (seftriakson). Berdasarkan penilaian metode Gyssens, sebanyak 80 regimen antibiotik empiris dinyatakan rasional. Hasil uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara rasionalitas penggunaan antibiotik empiris dengan luaran klinis, dengan nilai p = 0,033 (<0,05). Penggunaan antibiotik yang rasional memiliki peluang 2,463 kali lebih besar untuk menghasilkan luaran klinis yang membaik pada pasien pneumonia anak. Apoteker memiliki peran penting dalam pemantauan penggunaan antibiotik empiris untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik pada pasien pneumonia anak.