I Nyoman Purnama
Sistem Informasi Akuntansi, Universitas Primakara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING DALAM PEMERINGKATAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR TEKNOLOGI YANG TERDAFTAR DI BEI Ni Made Triwedi; I Nyoman Purnama; I Gede Putu Krisna Juliharta; Ni Putu Noviyanti Kusuma
JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol. 10 No. 2 (2026): JATI Vol. 10 No. 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/jati.v10i2.17299

Abstract

Peningkatan minat generasi milenial terhadap investasi pasar modal tercermin dari bertambahnya jumlah investor di pasar modal Indonesia dari 12,17 juta pada tahun 2023 menjadi 13,45 juta di tahun 2024. Namun, peningkatan tersebut belum dapat diimbangi oleh tingkat literasi keuangan nasional yang masih pada rentang angka 65,43%, sehingga hal ini dapat menjadi potensi yang memengaruhi kualitas pengambilan keputusan investasi. Permasalahan ini menuntut adanya alat bantu yang objektif dalam menilai kinerja keuangan perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perusahaan sektor teknologi dengan kinerja keuangan terbaik menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW). Penelitian ini melibatkan 14 perusahaan sebagai alternatif penilaian dengan empat kriteria, yakni rasio lancar, rasio kas, debt to equity ratio,dan return on asset. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa lima perusahaan dengan kinerja keuangan terbaik diperoleh melalui proses perankingan menggunakan metode SAW. Peringkat pertama ditempati oleh PT DCI Indonesia Tbk dengan nilai preferensi sebesar 0,8667, diikuti oleh PT Multipolar Technology Tbk dengan perolehan nilai yang sama. Selanjutnya diperingkat ketiga terdapat PT Galva Technologies Tbk dengan nilai 0,8333, PT Indointernet Tbk pada peringkat ke empat dengan nilai 0,7000, dan PT Anabatic Technologies Tbk pada peringkat kelima dengan nilai 0,6667.
KLASIFIKASI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN INDUSTRIALS YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA MENGGUNAKAN ALGORITMA DECISION TREE PERIODE 2022-2024 Kadek Rian Kumaraarta; I Nyoman Purnama; Ni Made Satvika Iswari
JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol. 10 No. 2 (2026): JATI Vol. 10 No. 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/jati.v10i2.17427

Abstract

Ketidakpastian perekonomian global pasca pandemi COVID-19 pada periode 2022–2024 meningkatkan risiko terjadinya financial distress pada perusahaan, khususnya pada sektor Industrials yang memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan kondisi financial distress dan non-financial distress pada perusahaan sektor Industrials yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2022–2024 menggunakan algoritma Decision Tree C4.5. Data yang digunakan berupa laporan keuangan kuartalan perusahaan yang diperoleh dari BEI dan sumber pendukung, dengan variabel penelitian meliputi rasio solvabilitas, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DAR), serta rasio profitabilitas, yaitu Return on Equity (ROE) dan Return on Assets (ROA). Metode analisis yang digunakan adalah data mining dengan penerapan algoritma Decision Tree C4.5 untuk membangun model klasifikasi kondisi keuangan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma Decision Tree C4.5 memiliki kinerja klasifikasi yang sangat baik, yang ditunjukkan oleh nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,993 dan tingkat akurasi yang tinggi. Model mampu mengklasifikasikan perusahaan ke dalam kondisi financial distress dan non-financial distress secara akurat. Perusahaan dengan kondisi non-financial distress umumnya memiliki tingkat profitabilitas yang lebih tinggi serta struktur permodalan yang lebih sehat dibandingkan perusahaan yang mengalami financial distress. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alat bantu bagi investor, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan keputusan serta sebagai sistem peringatan dini terhadap potensi financial distress perusahaan.